Jumat, 25 September 2026

Hasil Lab Kasus Keracunan Makanan MBG: Salmonella dan Bacillus Cereus Ditemukan


  • Sabtu, 27 September 2025 | 14:30
  • | News
 Hasil Lab Kasus Keracunan Makanan MBG: Salmonella dan Bacillus Cereus Ditemukan Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kasus keracunan makanan yang terjadi di Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Bandung Barat, kini mulai mendapat titik terang. Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) setempat menunjukkan adanya kontaminasi bakteri, dengan temuan utama Salmonella dan Bacillus cereus pada sampel makanan.

Menurut data World Health Organization (WHO), bakteri Salmonella umumnya ditemukan pada makanan tinggi protein seperti daging, unggas, dan telur. Sementara itu, otoritas pangan di Australia, NSW Food Authority, mencatat Bacillus cereus kerap muncul akibat penyimpanan nasi yang tidak tepat.

Menanggapi temuan ini, Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, menjelaskan bahwa keracunan makanan merupakan masalah kesehatan global dan tidak hanya terkait dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“WHO menyebutkan setidaknya ada lima kelompok penyebab keracunan makanan yang dapat dideteksi di laboratorium. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan sumber masalah,” kata Prof. Tjandra.

Lima Kelompok Penyebab Keracunan Makanan Menurut WHO

  1. BakteriPaling sering ditemukan adalah Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli. Bakteri lain yang juga bisa muncul antara lain Listeria dan Vibrio cholerae.
  2. VirusDua jenis yang paling sering dikaitkan dengan keracunan makanan yaitu Norovirus dan virus Hepatitis A.
  3. ParasitTermasuk cacing trematoda, cacing pita seperti Taenia dan Ekinokokus, hingga parasit seperti Ascaris, Giardia, dan Entamoeba histolytica yang biasanya masuk lewat air atau tanah tercemar.
  4. PrionLebih jarang ditemukan, namun bisa terjadi. Contoh prion yang berbahaya adalah penyebab penyakit sapi gila (Bovine Spongiform Encephalopathy/BSE).
  5. Kontaminasi Bahan KimiaWHO membaginya dalam tiga kategori: logam berat (timbal, kadmium, merkuri), polutan organik persisten (dioksin, PCB), serta berbagai toksin seperti mikotoksin, biotoksin laut, sianogenik glikosida, aflatoksin, dan okratoksin.

Prof. Tjandra menegaskan, daftar penyebab di atas adalah acuan umum WHO dan tidak serta-merta berarti kasus MBG saat ini disebabkan oleh semua faktor tersebut. Namun, pemetaan ini penting agar laboratorium di Indonesia dapat lebih waspada dalam menelusuri sumber keracunan makanan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru