Loading
Pencitraan termal menunjukkan wajah orang dewasa saat mendengarkan tangisan bayi. Area merah menunjukkan peningkatan suhu. (Foto: Laboratorium Penelitian Bioakustik ENES/The Guardian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Tangisan bayi bukan hanya membuat orang dewasa merasa iba atau cemas, tapi juga memicu reaksi fisik yang nyata pada tubuh manusia. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa suara tangisan bayi, khususnya ketika mereka kesakitan, mampu meningkatkan suhu wajah orang dewasa, baik pria maupun wanita.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of the Royal Society Interface ini menunjukkan, respons emosional terhadap tangisan bayi berhubungan erat dengan apa yang disebut “kekasaran akustik” atau acoustic roughness. Semakin tidak beraturan suara tangisan, semakin kuat pula reaksi emosional dan fisiologis yang dirasakan pendengarnya.
“Semakin banyak rasa sakit yang tersirat dalam tangisan, semakin besar pula respons sistem saraf otonom kita. Artinya, tubuh kita otomatis merasakan sinyal kesakitan yang tersimpan dalam suara itu,” jelas Profesor Nicolas Mathevon dari Universitas Saint-Etienne, Prancis.
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Para peneliti memutar rekaman tangisan bayi kepada relawan yang minim pengalaman mengasuh anak. Selama percobaan, wajah para peserta direkam dengan kamera termal untuk melihat perubahan suhu kulit.
Hasilnya cukup mengejutkan. Baik pria maupun wanita menunjukkan respons yang hampir sama: wajah mereka memanas ketika mendengar tangisan bayi. Efek ini semakin kuat jika tangisan berasal dari bayi yang benar-benar kesakitan, misalnya saat disuntik vaksin, dibanding tangisan ringan seperti saat dimandikan.
Evolusi dan Sinyal Penting dari Tangisan Bayi
Secara evolusi, tangisan bayi memang dirancang agar sulit diabaikan. Bayi yang kesakitan akan mengontraksikan tulang rusuknya lebih kuat, menghasilkan tekanan udara tinggi yang membuat pita suara bergetar tidak harmonis. Fenomena ini dikenal sebagai nonlinear phenomena (NLP), yaitu suara tangisan yang terdengar kasar dan tidak teratur.
Tangisan dengan NLP inilah yang paling cepat ditangkap oleh otak orang dewasa sebagai sinyal darurat, sehingga memicu aliran darah ke wajah dan membuat suhu kulit naik sebagaimana dilaporkan The Guardian.
Pria dan Wanita Sama-Sama Responsif
Menariknya, penelitian ini juga menepis anggapan bahwa perempuan lebih sensitif terhadap tangisan bayi dibanding laki-laki. Kamera termal membuktikan bahwa respons keduanya hampir identik.
Prof. Christine Parsons, peneliti dari Universitas Aarhus, Denmark, menambahkan bahwa penelitian ini melengkapi studi sebelumnya yang menunjukkan pria dan wanita sama-sama mudah terbangun oleh tangisan bayi di malam hari. Perbedaan frekuensi ibu yang lebih sering bangun, kata Parsons, kemungkinan besar dipengaruhi oleh pengalaman mengasuh dan menyusui, bukan karena faktor biologis semata.
Inovasi dalam Studi Respons Fisiologis
Selama ini, penelitian tentang tangisan bayi biasanya hanya mengukur detak jantung atau respons otak. Studi terbaru ini membuka cara baru dengan pendekatan pencitraan termal untuk melihat bagaimana tubuh bereaksi secara halus terhadap suara tangisan.
“Belum pernah ada yang mengukur reaksi manusia terhadap tangisan bayi dengan cara ini sebelumnya,” tambah Prof. Mathevon. “Meski masih terlalu dini untuk menentukan manfaat praktisnya, hasil ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh suara bayi terhadap emosi dan tubuh kita.”