Gita Wirjawan: Literasi, Energi, dan Pendidikan Jadi Jalan Asia Tenggara Menuju Pusat Dunia


  • Jumat, 05 September 2025 | 23:30
  • | News
 Gita Wirjawan: Literasi, Energi, dan Pendidikan Jadi Jalan Asia Tenggara Menuju Pusat Dunia Gita Wirjawan sebagai narasumber menyoroti tantangan sekaligus peluang Asia Tenggara dalam menempatkan diri sebagai pusat kesadaran global yang diselenggarakan di Auditorium Benny Subianto - Universitas Paramadina, Kampus Kuningan pada Kamis (4/9/2025). (Foto: Dok. Univ. Paramadina)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu motor penggerak dunia, namun masih menghadapi tantangan besar dalam literasi, pendidikan, hingga energi. Hal ini disampaikan oleh mantan Menteri Perdagangan RI, Gita Wirjawan, dalam forum Meet the Leaders yang digelar Universitas Paramadina di Auditorium Benny Subianto, Kampus Kuningan, Kamis (4/9/2025).

Acara yang dipandu oleh Wijayanto Samirin tersebut mengusung tema “What It Takes: Southeast Asia from Periphery to Core of Global Consciousness”, membahas bagaimana Asia Tenggara bisa bertransformasi dari kawasan pinggiran menjadi pusat kesadaran global.

Literasi dan Pendidikan Jadi Fondasi

Gita mengungkapkan bahwa Asia Tenggara masih lemah dalam membangun narasi global. Dari 140 juta buku yang terbit di seluruh dunia, hanya 0,26% yang membahas Asia Tenggara, padahal kawasan ini dihuni lebih dari 700 juta penduduk.

“Ini menunjukkan betapa literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi masyarakat kita,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan adalah kunci utama. Saat ini, mayoritas kepala keluarga dan pemilih di Indonesia belum mengenyam pendidikan tinggi. Karena itu, menurut Gita, investasi besar pada sektor pendidikan perlu menjadi prioritas agar kualitas kepemimpinan dan politik semakin kuat.

“Guru bukan sekadar pengajar, tapi juga motor yang bisa menumbuhkan imajinasi, ambisi, dan keberuntungan yang lahir dari kerja keras. Itu modal utama generasi muda untuk melangkah maju,” tegasnya.

Kesenjangan dan Infrastruktur Energi

Selain literasi dan pendidikan, Gita menyoroti kesenjangan sosial-ekonomi di Asia Tenggara yang masih terlihat jelas dalam empat aspek: kekayaan, pendapatan, peluang, serta pertumbuhan ekonomi yang timpang antara kota besar dan daerah kecil.

Ia menegaskan pentingnya pembangunan infrastruktur, khususnya di sektor energi. Indonesia misalnya, membutuhkan 400 ribu megawatt listrik untuk menopang modernisasi. Namun kapasitas pembangunan baru mencapai 3.000–5.000 megawatt per tahun, jauh dari kebutuhan ideal.

Belajar dari Tiongkok

Dalam paparannya, Gita membandingkan perjalanan Asia Tenggara dengan Tiongkok. Selama tiga dekade terakhir, GDP per kapita Tiongkok tumbuh 30 kali lipat, sementara Asia Tenggara hanya meningkat 2,7 kali lipat. Perbedaan ini, menurutnya, terjadi karena Tiongkok mampu mengarahkan investasi besar pada pendidikan, infrastruktur, tata kelola, daya saing, dan kemandirian kota-kota dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

Nasionalisme Sejati

Gita juga mengingatkan bahwa nasionalisme sejati bukan hanya soal identitas, melainkan tentang siapa yang bisa menikmati hasil pembangunan.

“Kita perlu membuka diri terhadap talenta, imajinasi, dan ambisi. Semua itu akan membentuk keberuntungan yang lahir dari kerja keras. Itu yang harus menjadi nilai utama generasi muda Asia Tenggara,” pungkasnya.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru