Loading
Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, M. Zuhri Bahri, resmi meluncurkan buku berjudul 'Melindungi Pekerja Sepanjang Hayat' di Kompas Institute, kawasan Palmerah, Jakarta, Senin (23/6/2025). (Foto: Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Isu ketenagakerjaan dan perlindungan sosial kembali menjadi sorotan usai peluncuran buku terbaru karya Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, M. Zuhri Bahri, yang berjudul "Melindungi Pekerja Sepanjang Hayat", pada Senin (23/6/2025) di Kompas Institute, Jakarta.
Buku ini merupakan kumpulan refleksi dan pemikiran Zuhri selama menjabat lima tahun sebagai Ketua Dewas BPJS Ketenagakerjaan periode 2021–2026. Ia merangkum pengalaman dan pandangan kritisnya dalam 164 halaman, yang sebagian besar sebelumnya telah dipublikasikan dalam bentuk artikel di berbagai media massa.
“Buku ini tidak hanya berisi teori, tapi juga pengalaman praktis yang menggabungkan konsep-konsep perlindungan sosial pekerja dalam konteks Indonesia,” ujar Zuhri saat peluncuran.
Tiga Isu Utama: Ketenagakerjaan, Perlindungan Sosial, dan Kesejahteraan
Menurut Zuhri, ada tiga isu sentral yang dibahas dalam bukunya. Pertama, tantangan ketenagakerjaan di Indonesia yang masih menyisakan berbagai persoalan struktural dan inklusi. Kedua, perlindungan sosial bagi tenaga kerja, baik formal maupun informal. Ketiga, upaya mendorong kesejahteraan pekerja sebagai bagian dari pembangunan sosial berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan memegang peran penting dalam menjamin rasa aman bagi para pekerja, yang pada gilirannya mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup mereka.
“BPJS Ketenagakerjaan sudah punya modal besar untuk menjadi lembaga yang lebih kuat. Modal itu mencakup human capital dengan 144 juta penduduk yang bekerja, serta transformasi digital yang terus dilakukan,” jelasnya.
Indonesia Dianggap Progresif dalam Perlindungan Sosial
Zuhri juga menyoroti bagaimana sistem jaminan sosial di Indonesia relatif lebih lengkap dibanding negara-negara dengan konsep welfare state sekalipun. Ia menyebut bahwa di banyak negara, jaminan sosial umumnya hanya mencakup tiga aspek: pensiun, kesehatan, dan pendidikan.
“Di Indonesia, kita lebih progresif. BPJS Ketenagakerjaan hadir dengan pendekatan perlindungan menyeluruh yang menyasar berbagai aspek kesejahteraan tenaga kerja,” katanya.
Rasa Aman Pekerja Dorong Ekonomi Nasional
Dalam peluncuran buku tersebut, hadir pula Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB University, Prof. Nunung Nuryartono, yang menyampaikan bahwa keberadaan jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan sangat krusial dalam menciptakan kenyamanan dan produktivitas kerja.
“Kalau pekerja merasa aman, tentu produktivitas mereka meningkat. Dan ini berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Nunung, yang juga menjabat Ketua Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) periode 2024–2029.
Ia menambahkan pentingnya perluasan cakupan jaminan sosial tidak hanya pada sektor formal, tetapi juga bagi pekerja informal yang selama ini sering terpinggirkan dari sistem perlindungan.
Lewat buku "Melindungi Pekerja Sepanjang Hayat", M. Zuhri Bahri tak hanya merangkum pengalaman pribadinya, tetapi juga menyampaikan pesan penting: sistem perlindungan sosial harus menjadi pilar utama dalam pembangunan ketenagakerjaan Indonesia.
Buku ini menjadi kontribusi intelektual yang tak hanya relevan untuk praktisi, tetapi juga pembuat kebijakan dan masyarakat luas yang peduli pada nasib para pekerja.