KWI Dorong Reformasi Mental untuk Cetak Kader Katolik Unggul Menuju Indonesia Emas 2045


  • Rabu, 11 Juni 2025 | 23:30
  • | News
 KWI Dorong Reformasi Mental untuk Cetak Kader Katolik Unggul Menuju Indonesia Emas 2045 Peserta Rapat Pleno Pernas Kerasulan Awam (Kerawam) KWI berfoto bersama Ketua Komisi Kerawam KWI, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. (Foto: Dok. Kerawam KWI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Dalam upaya menyongsong Indonesia Emas 2045, Gereja Katolik melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kembali menegaskan perannya dalam membentuk kader bangsa yang unggul melalui reformasi mental dan pembinaan karakter.

Pesan kuat ini disampaikan oleh Ketua Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) KWI, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, saat membuka Rapat Pleno Pertemuan Nasional (Pernas) Kerawam di Jakarta, Selasa (10/6/2025). Acara ini berlangsung pada 10–14 Juni 2025 dengan tema “Awam Katolik Berjalan Bersama Gereja dan Bangsa Mempersiapkan Kader-Kader Berkualitas”.

Krisis Mentalitas Jadi Tantangan Bangsa

Dalam sambutannya, Mgr. Harun mengungkapkan keprihatinannya terhadap krisis mentalitas yang masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Ia menyoroti pentingnya memulai perubahan dari hal-hal kecil yang membentuk karakter sejak dini.

“Kita bicara reformasi mental dan kaderisasi, tapi seringkali hanya sampai pada wacana. Kalau kita ingin generasi unggul, kita harus berani memulainya sekarang,” tegasnya.

Ia mencontohkan negara seperti Vietnam dan Korea Selatan yang berhasil menanamkan kedisiplinan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, Indonesia menurutnya masih terlalu permisif terhadap pelanggaran hukum—dari kemacetan yang semrawut hingga korupsi yang melibatkan elit.

“Bangsa ini sangat kaya dan potensial. Tapi kita akan tertinggal terus jika mentalitas kita tidak berubah,” lanjutnya.

Pendidikan Kedinasan Jadi Jalur Strategis

Senada dengan Mgr. Harun, Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI, Romo Hans Jeharut, juga menyoroti pentingnya jalur pendidikan kedinasan dalam membentuk kader Katolik yang siap berkontribusi di ruang publik.

“Kami ingin mendorong anak-anak muda Katolik untuk tidak hanya aktif di gereja, tetapi juga hadir di tengah masyarakat melalui jalur-jalur strategis seperti sekolah kedinasan,” ungkap Romo Hans.

Dalam rangkaian Pernas ini, KWI turut menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga kedinasan untuk memberikan gambaran langsung tentang bagaimana membentuk kader bangsa melalui sistem tersebut.

Gereja dan Bangsa: Satu Langkah Menuju Masa Depan

Pernas 2025 ini menjadi momentum reflektif dalam perjalanan 100 tahun Gereja Katolik di Indonesia. Romo Hans menyampaikan bahwa luka dan harapan bangsa juga menjadi luka dan harapan Gereja. Inilah semangat sinodalitas—berjalan bersama sebagai satu tubuh.

Mgr. Harun menegaskan bahwa reformasi mental bukan proses instan. Namun, Gereja memiliki tanggung jawab untuk menjadi pelopor dan fasilitator dalam pembinaan karakter generasi muda secara sistematis dan berkelanjutan.

“Impian tentang Indonesia Emas 2045 hanya bisa terwujud jika dimulai dari sekarang. Kita ingin kader bangsa yang bukan hanya pintar, tapi juga berkarakter, jujur, dan rela berkorban demi negeri ini,” pungkasnya dalam rilis yang diterima media ini, Rabu (11/6/2025).

 

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru