Loading
Uskup Keuskupan Amboina, Mgr P.C. Mandagi MSC. (Satu Harapan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Uskup Keuskupan Amboina, Mgr P.C. Mandagi MSC mengatakan kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI) Katolik Nasional I akan berlangsung di Ambon, Maluku pada 27 Oktober 2018 hingga 2 November 2018 bukan hanya milik Gereja Katolik saja. Melainkan menurut Mgr. Mandagi merupakan milik agama lain dan pemerintah daerah.
Bangunan milik Gereja Protestan yang digunakan adalah Gedung Baileo Oikumene, Gedung Cristian Center. Islamic Center milik umat Islam Islam digunakan untuk seminar dan musyawarah nasional. Milik Gereja Katolik yang dipakai adalah aula St. Fransiskus Xaverius, Gedung Chatolic Center. Sementara aset pemerintah daerah yang digunakan antara lain Lapangan Merdeka, Kantor Gubernur Maluku, Lapangan Polda Tantui Gedung Balieo Siwalima, dan Gedung Taman Budaya.
Umat Katolik yang menjadi panitia PESPARANI sendiri hanya berjumlah 10 persen. Sisanya umat beragama lain. “Jadi ini sungguh PESPARANI ini mau mewartakan kepada dunia bahwa betapa Indonesia menekankan kerukunan antar umat beragama,”ujar Mgr. Mandagi.
Menurut Mgr. Mandagi, pada dasarnya masyarakat Maluku memiliki tradisi panjang dalam menegakkan kerukunan antarumat beragama yang merupakan warisan dari leluhur. Namun, karena adanya kepentingan politik, konflik Ambon terjadi pada tahun 1999-2004. “Kita sudah belajar dari tragedi yang terjadi beberapa tahun lalu. Konflik itu terjadi itu karena umat beragama tidak rukun. Politiklah yang dilihat jadi panglima, bukan agama. Kita lihat terjadi kehancuran di sini. Umat beragama di Maluku sudah belajar dan mau bertobat. Salah satu tanda pertobatan itu adalah PESPARANI, selain MTQ dan PESPARAWI.”
Senada dengan Mgr Mandagi, Ketua Majelis Ulama Provinsi Maluku DR. H. Abdullah Latuapo, mengatakan PESPARANI di Maluku bukan sekedar perayaan umat Katolik saja. Namun, kegiatan yang melibatkan seluruh umat agama yang ada di Maluku. Kebersamaan ini sudah terjalin sejak MTQ dan PESPARAWI di Ambon yang melibatkan semua agama. Sewaktu MTQ digelar kontingen dari Provinsi Banten malah tinggal di kediaman Uskup Keuskupan Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC.
Abdullah mengatakan bahwa kerukunan antarumat beragama di Maluku ini telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Berkat pranata-pranata sosial yang diwariskan para leluhur, kehidupan antarumat beragama telah lama terbina kebersamaan dan persaudaraan di Maluku.
Oleh karena itu, ketika terjadi kerusuhan banyak orang terkejut. Bagaimana mungkin di Maluku yang selama itu dikenal damai, aman, dan, nyaman dapat terjadi tragedi kemanusiaan yang begitu parah? “Bukan hanya umat non-Muslim yang kaget, kita yang Muslim pun terkejut. Penelitian para ahli menyatakan banyak faktor yang menyebabkan konflik itu. Tetapi kita pada akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa faktor utamanya adalah politik. Sehingga banyak pemikiran-pemikiran dari luar mempengaruhi masyarakat kita. Suatu kejadian yang tidak kisa sangka-sangka,” tambah Abdullah lagi.
Lebih lanjut Abdullah mengungkapkan bahwa pada dasarnya masyarakat Maluku itu bersudara. Masyarakat Maluku mengenal sistem marga seperti halnya suku Batak. Marga Pati, misalnya, ada yang beragama Islam tetapi juga ada yang beragama Kristen. Begitu pula hanya dengan Maluputi, Toisuta, dan marga-marga yang lain.
Dengan kegiatan MTQ dan PESPARAWI yang telah melibatkan seluruh umat beragama di Maluku, menjadi sarana untuk merajut kembali persaudaraan yang sebenarnya sudah lama ada. Masyarakat Maluku bersama pejabat pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat telah belajar bagaimana pahitnya konflik sosial yang pernah terjadi. “Kembali rukun. PESPARANI menjadi salah satu momen untuk lebih mempererat persaudaraan kita sebagai sesama manusia di Maluku, dan Indonesia pada umumnya. Kita saling menghargai, saling menghormati. Ini salah satu bentuk kerja sama kita”.
Untuk itulah Abdullah bersama Mgr. Mandagi, Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Pdt. Drs. A.J.S. Werinussa dalam berbagai kesempatan memberikan dukungan untuk suksesnya PESPARANI. Saat kunjungan pertama ke Jakarta pada 18 Mei 2018, para tokoh agama itu menyatakan dukungan atas penyelenggaraan Pesparani dihadapan para uskup di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Ketua MPR, dan Metro TV. Pada kunjungan kedua bersama Gubernur Maluku dan Wakil Gubernur Maluku mereka menghadap Menteri Agama dan Wakil Presiden untuk meminta dukungan dalam cara Pesparani pada 1 Agustus 2018. ”Kita bersama-sama. Tokoh agama di Maluku kompak dan selalu berkoordinasi. Sungguh erat”.
Hal ini sejalan dengan program Pemda Maluku yang ingin menjadikan daerahnya sebagai laboratorium kerukunan umat beragama. Meskipun Maluku pernah mengalami konflik sosial tetapi dapat cepat bangkit untuk merajut kembali kedamaian dan persatuan antara umat beragama. “Daerah-daerah lain pun sudah belajar dari Maluku dalam membangun kerukunan umat beragama. Bahkan dari luar negeri pun ada yang datang untuk belajar. Oleh karena itu kehadiran presiden dalam membuka PESPARANI ini sangat penting di Maluku dalam rangka event kerukunan nasional. Apalagi dalam situasi tahun politik sekarang ini.”
Untuk mengikuti kegiatan ini para peserta telah mengikuti proses seleksi di provinsi masing-masing. Diperkirakan para peserta dan tim pendukung yang hadir sebanyak 8.000 orang. Jumlah ini belum termasuk undangan, panitia lokal, panitia pendukung, aparat keamanan, dan pengurus LP3KN.
Menyambut kehadiran PESPARANI ini Mgr. Mandagi melihat sebagai sebuah kumpulan berkat bagi keuskupannya. Pertama, berkat bagi Keuskupan Amboina karena dipercaya oleh negara dan Gereja Katolik di Indonesia untuk menyelenggarakan PESPARANI I di Maluku. Ini sebuah berkat. “Saya katakan berkat karena apa? Lewat PESPARANI ini Tuhan mengungkapkan cinta-Nya kepada Provinsi Maluku. Karena akan hadir sangat banyak umat Katolik dari seluruh Indonesia hadir. Dan kehadiran umat itu senantiasa merupakan ungkapan juga kehadiran Tuhan”
Kedua, lewat PESPARANI ini mau diungkapkan bahwa umat beragama itu saling rukun satu sama lain. Terbukti umat Islam, Protestan, Hindu, dan Budha terlibat dalam kegiatan umat Katolik ini.
Ketiga, umat Katolik Keuskupan Amboina yang tersebar di dua provinsi, Maluku dan Maluku Utara, jadi bersatu untuk menyukseskan PESPARANI ini. Umat dan para pastor saling bahu membahu untuk kegiatan ini “Jadi sebuah berkat persatuan lewat Pesparani ini. PESPARANI ini cuma alat saja. Kita tidak diselamatkan oleh PESPARANI. Kita diselamatkan oleh persaudaraan dan cinta kasih yang terwujud dalam PESPARANI”
Keempat, PESPARANI menggerakkan perekonomian Maluku menjadi maju. Kehadiran para peserta yang datang memberikan pemasukan untuk hotel, restauran, perusahaan transportasi, pengelola pariwisata, toko-toko cindera mata, dan lain-lain.
“Kalau sebelumnya orang khawatir datang ke Maluku maka dengan Pesparani orang tahu bahwa Maluku aman. Maluku sebagai laboratorium perdamaian dapat dicontoh oleh daerah dan negara lain.”