Loading
Arsul Sani (Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani angkat bicara soal rencana pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Hal itu terkait rencana Presiden Joko Widodo membebasakan terpidana teroris tersebut dengan alasan kemanusiaan..
"Jangan dijadikan gorengan politik. Ini kan persoalan hukum, kalau persoalan hukum, itu ada dua sisi yang sama-sama penting untuk dipertimbangkan. Pertama, adalah sisi kemanusiaan. Karena sisi kemanuasiaan ini bagian daripada sisi yang lebih besar yang disebut dengan sisi keadilan. Maka, memang esensi dari hukum itu ya keadilan juga," kata Arsul yang juga anggota Tim Kampanye Nasional (TKN), Joko Widodo-KH.Ma'ruf Amin kepada wartawan di Jakarta, Kamis (24/1/2019).
"Dalam konteks ini saya kira pemerintah, terutama Presiden Jokowi itu sudah melakukan kebijakan yang benar, yaitu untuk mempertimbangkan pembebasan terhadap Abu Bakar Ba'asyir dari kelanjutan menjalankan pidana penjara. Jadi dari sisi itu sudah betul, dan sudah pas karena memang menggunakan sisi kemanusiaan."
Namun pandangan lain pun, perlu dipertimbangkan. Misalnya kajian dari sisi kepastian hukum dan regulasi. " Ini juga tidak bisa dilangkahi begitu saja. Artinya, namanya saja pembebasan bersyarat, tentu harus ada syarat yang dipenuhi, syarat-syarat itu diatur dalam UU pemasyarakatan dan kemudian diturunkan permenkumham No. 3 Tahun 2018. Nah ini juga harus diperhatikan bisa hanya sisi kemanusiaannya saja tetapi kemudian ditabrak sisi kepastian hukumnya (ketaatan atau kepatuhan hukumnya itu)," jelas anggota dewan dari daerah pemilihan Jawa Tengah ini.
Ditambahkannya, kedua pemikiran ini baik kemanusiaan maupun hukum, harus diberi porsi yang sama. Sebagai warga yang taat hukum, Ba'sir harus patuh pada peraturan yang ada di Indonesia. Dengan demikian, sisi kemanusiaan pun akan dipertimbangkan, hingga bermuara pada putusan pembebasan.
Jangan malah dibuat sebagai komoditas politik. "Seolah presiden Jokowi itu tidak konsisten, mencla-mencle, dan segala macem, seolah-olah seperti itu. ini harus kita sampaikan kepada masyarakat supaya bisa disikapi dengan proporsional," imbuh Arsul Sani.