Loading
Presiden Prabowo Subianto berbicara di Puncak Perayaan Natal 2025 di Jakarta, Senin (5/1/2026). ANTARA/HO-Sekretariat Presiden
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa semangat persatuan tidak boleh dimaknai sebagai pembungkaman suara kritis. Menurutnya, demokrasi justru tumbuh sehat ketika masyarakat diberi ruang untuk menyampaikan kritik dan koreksi secara jujur serta bertanggung jawab.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada Perayaan Puncak Natal 2025 di Jakarta, Senin (5/1/2026) malam, yang diikuti secara daring melalui Sekretariat Presiden.
Prabowo menilai anggapan bahwa persatuan bertentangan dengan demokrasi adalah keliru. Ia menekankan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis, selama tidak berubah menjadi fitnah yang memecah belah bangsa.
Baca juga:
Indonesia Tegas: Pemerintah Tolak Visa Atlet Senam Israel untuk Kejuaraan Dunia di Jakarta“Demokrasi silakan, koreksi silakan, kritik itu bagus. Tapi fitnah itu tidak bagus,” ujar Presiden.
Kritik sebagai Penjaga Demokrasi
Baca juga:
NU dan Masa Depan Demokrasi IndonesiaDalam pandangannya, seluruh ajaran agama menggarisbawahi pentingnya kejujuran dan menolak kebohongan. Prabowo menyinggung ajaran Kristen yang melarang dusta, serta ajaran Islam yang menyebut fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Ia mengingatkan bahwa kebohongan yang dibiarkan berkembang dapat memicu kecurigaan, perpecahan, dan kebencian antarsesama, yang pada akhirnya merusak fondasi kehidupan berbangsa.
Presiden juga menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik, termasuk bagi dirinya sendiri sebagai kepala negara. Ia mengaku justru merasa terbantu ketika mendapat koreksi, karena hal itu menjadi pengingat dalam menjalankan tanggung jawab.
“Koreksi itu mengamankan saya,” katanya dikutip Antara.
Koreksi Bukan Pembangkangan
Meski kritik kerap terasa tidak nyaman, Prabowo menilai keberanian untuk mengingatkan pimpinan bukanlah bentuk pembangkangan. Ia memberi contoh sederhana, seperti bawahan yang mengingatkan soal atribut atau kerapian seragam.
Menurutnya, sikap tersebut justru menunjukkan kepedulian dan komitmen untuk menjaga wibawa serta tanggung jawab pemimpin.
Di akhir pernyataannya, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk lebih bijak membedakan antara kritik yang membangun dan fitnah yang merusak persatuan. Demokrasi, tegasnya, membutuhkan keberanian untuk jujur sekaligus kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.