Frans Go dalam perjalanan Sabtu (6/4/2024) siang dari Kefamenanu kembali menuju Kupang menyempatkan diri mampir melihat kearifan lokal dan melihat langsung kekayaan budaya Timor di Desa Letmafo, Timor Tengah Utara dan berbincang-bincang dengan penenun. (Foto-Foto: Akun IG: fransiscus_go)
KEFAMENANU, TTU, ARAHKITA.COM – Putra asal Kefamenanu, Timor Tengah Utara, NTT, Fransiscus Go yang juga pengusaha dalam perjalanan Sabtu (6/4/2024) siang dari Kefamenanu kembali menuju Kupang menyempatkan diri mampir melihat kearifan lokal dan melihat langsung kekayaan budaya Timor di Desa Letmafo, Timor Tengah Utara.
“Tadi siang, sebelum kembali menuju Kupang, saya sempatkan mampir melihat kearifan lokal dan melihat langsung kekayaan budaya Timor di Desa Letmafo, Timor Tengah Utara,”tulisan Frans Go biasa disapa di akun Instragrammnya.
Dalam akunnya Frans Go menulis,” Ada kain tenun yang dikerjakan dalam waktu 1 minggu, ada juga yang membutuhkan waktu 2 sampai 3 bulan, tergantung tingkat kerumitan dari pengerjaan itu sendiri.”
Baca juga:
Frans Go Dukung UMKM Sambal Asett di Soe- NTT, Siap Kolaborasi Nasional bersama Sayur Kendal“Saya selalu takjub. Bagaimana manusia bisa menciptakan keindahan dari kerumitan menenun seperti ini. Sungguh luar biasa. Berkat Tuhan di bumi Timor, NTT,”tulisnya lagi.
Frans Go sempat berbincang-bincang dengan ibu-ibu penenun. Frans Go juga mendukung dan turut memastikan bahwa usaha pelestarian budaya ini juga mendorong pengembangan sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal,
Dalam upaya menghidupkan kembali dan merawat warisan budaya Nusa Tenggara Timur (NTT), Timor Creative People (TCP), yang diprakarsai oleh Erwin Yuan juga didukung Frans Go ketika TCP mengambil langkah penting melalui inisiatif “NTT BERTENUN”.
Frans Go yang berdedikasi untuk pemberdayaan sosial dan remaja di NTT, terutama melalui perannya dalam event “NTT BERTENUN” dan dukungannya terhadap Ilda Saduk di Universal Woman 2024.
“Tenun ikat NTT lebih dari sekedar kain; ia adalah ekspresi dari jiwa NTT itu sendiri,” kata Erwin Yuan, pendiri TCP dan Padu Padan Tenun dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/03/2024) lalu.
Motif Buna, Motif Tenun Cantik dari TTU
Motif kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sudah dikenal lebih luas. Salah satu motif kain tenun dari Pulau Timor yang cukup cantik adalah motif Buna dari Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara (Kabupaten TTU). Kain penuh warna itu memiliki tekstur menonjol mirip tenun ikat. Motifnya didominasi garis dan belah ketupat. Masing-masing warna memiliki arti, yaitu warna ungu untuk upacara kedukaan; hitam untuk upacara adat; merah, hijau, kuning, dan warna cerah lainnya, untuk suasana sukacita seperti pernikahan.
Proses menenun Tenun Ikat Motif Buna dilakukan secara tradisional oleh kaum perempuan Kefa. Sebagian besar perempuan di sana menjadi penenun. Keindahan warna-warni tenun buna berasal dari benang diberi pewarna alami.
Proses pemasaran kain tenun ikat Motif Buna tidak efektif, sehingga perajin memanfaatkan hari pasar seminggu sekali untuk menjual hasil karya mereka. Saat hari pasar tiba, setiap orang dari penjuru NTT, bahkan negara tetangga Timor Leste, datang membeli.
Di tanah Timor, tenun dibagi menjadi dua daerah dengan ciri khas berbeda, yakni Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan. Bagian utara memiliki motif biboki, insana, wini, neno, pauf, dan alam. Sementara di bagian selatan memiliki motif nunkolo, amanuban, naisa, dan bokon, dengan teknik tenun yang berbeda-beda diantaranya: buna, futus, lotis dan pauf.
Aktivitas menenun sering ditemukan di seluruh Desa-desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, biasanya dilakukan oleh para mama (panggilan lazim wanita yang telah menikah di daerah ini) di sela-sela waktu luang bertani, berkebun, dan berternak. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pakaian adat keluarga sendiri, mama-mama juga menjual kain tenun untuk mencukupi keperluan rumah tangganya. Dengan menggunakan alat tenun tradisional, berbagai jenis kain tenun dihasilkan dari produksi rumahan, mulai dari selendang, sarung, selimut, tas sirih pinang, serta aksesoris lainnya seperti gelang, kalung dan lain-lain.
Proses pengerjaan kain tenun berbeda-beda tergantung ukuran dan tingkat kerumitan Tenun yang dipesan. Untuk ukuran kain selendang membutuhkan waktu pengerjaan selama 2 hari, kain sarung 3 hari dan selimut kurang lebih selama 1 bulan. Begitu juga halnya dengan biaya jasa pembuatan kain tenun yang berbeda-beda sesuai ukuran kainnya. Contohnya secara berurutan: selendang, sarung, dan selimut ialah Rp. 50 ribu, 175 ribu, dan 1 juta /lembar, tidak lupa juga tingkat kerumitan teknik tenun berpengaruh terhadap biaya sewa pengerjaannya.
Sebenarnya, banyak dari perempuan-perempuan yang tinggal di Desa-desa Kabupaten Timor Tengah Selatan memiliki keahlian dalam menenun. Namun, sebagian besar dari mereka juga masih didominasi bukan dari kalangan kaum muda. Degradasi keterampilan dan minat menenun dikalangan kaum muda ini, jika terjadi dalam jangka panjang, niscaya akan berdampak kepada regenerasi penerus dan pelestarian budaya tenun di Tanah Timor. Tidak hanya itu, dari penenun-penenun ini, hanya sedikit dari mereka yang tergabung dalam kelompok Tenun.
Kendala seperti kesibukan bertani yang dinilai lebih cepat memutar uang serta lebih memilih tenun untuk memenuhi kebutuhan pribadi, membuat banyak perajin tenun tidak menjadikan tenun sebagai pendapatan utama, tetapi hanya untuk sampingan. Karena itu, bagi para perajin tenun yang tidak tergabung dalam kelompok, biasanya menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan satu kain sarung ataupun selimut, baik untuk dijual maupun keperluan pribadi.