Loading
Anies Rasyid Baswedan semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta berpose di depan Taman Ismail Marzuki Jakarta. (Kumparan)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Taman Ismail Marzuki (TIM) telah menjadi rumah bagi para seniman sejak 10 November 1968. Semenjak itu, TIM selalu menjadi rujukan bagi aktivitas seni budaya di Indonesia, tidak hanya di Jakarta.
Sebelum dikukuhkan menjadi Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), kawasan TIM merupakan sebuah kebun binatang milik pelukis modern pertama Indonesia, Raden Saleh. Dalam perjalanannya selama setengah abad lebih, Taman Ismail Marzuki mengalami pasang surut sebagai rumah para seniman.
Seturut perjalanan zaman, seni budaya kontemporer maupun tradisional terus berkembang. Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan pun melihat, sudah waktunya TIM mempunyai wajah baru.
Taman Ismail Marzuki dikenal sebagai area berkumpulnya para seniman menuangkan pikiran dan ekspresinya. Lokasinya terletak di salah satu sudut Jalan Cikini Raya.
Lokasinya pun tak jauh dengan gedung-gedung bersejarah yang berada di Cikini. Dari Gedung Joang 45 ke Taman Ismail Marzuki, hanya membutuhkan 10 menit dengan berjalan kaki.
Selain itu terdapat pula Planetarium Jakarta yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 1964.
Tidak sekadar arena pertunjukan, Taman Ismail Marzuki yang juga dikenal dengan TIM ini memiliki catatan sejarah dan saksi bisu perkembangan seni di Indonesia.
Sejarah Awal Pembangunan Taman Ismail Marzuki
Sebelum TIM menjadi pusat kesenian, para seniman menuangkan ekspresinya di Pasar Senen dan Balai Budaya Jakarta. Pada tahun 1968, terjadi perbedaan ideologi politik yang mengakibatkan para seniman tidak bisa berkarya lagi di sana.
Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Ali Sadikin mencari tempat pengganti bagi para seniman dan terpilihlah lahan di area Cikini Raya.
Lahan itu sebelumnya adalah ruang rekreasi terbuka Taman Raden Saleh dan kebun binatang Jakarta.
Ali Sadikin merangkul dan menyerahkan konsep pembangunan dengan para seniman. Para seniman dan budayawan berkumpul dan berdiskusi membahas pembangunan TIM di Kantor Harian KAMI dan pondokan Salim Said yang terletak di Matraman Raya.
Kala itu, tokoh seniman dan budayawan yang sering berkumpul adalah Arifin C. Noer, Goenawan Mohamad, Ed Zulverdi, dan Sukardjasman.
Akhirnya, rancangan pembentukan TIM pun jadi dan kemudian diketik oleh Arifin C. Noer. Berkas itu kemudian ia serahkan ke Christianto Wibisono dan diteruskan kepada Ali Sadikin.
Hingga akhirnya, Ali Sadikin menyetujui bahwa Pemprov DKI akan menyediakan sarana, dana, dan fasilitas penunjang operasional TIM. Sedangkan pengelolaan TIM diserahkan kepada seniman dan budayawan.
Ali Sadikin juga membentuk Badan Pembina Kebudayaan atau yang kini dikenal sebagai Dewan Kesenian Jakarta. Lembaga itu beranggotakan 25 orang dan termasuk Trisno Soemardjo yang dipilih sebagai ketua.
Anggota itu antara lain Arief Budiman (sastrawan), Zaini (pelukis), Binsar Sitompul (musikus), Sardono W. Kusumo (penata tari), Teguh Karya (sutradara), Taufiq Ismail (penyair).
Selanjutnya, Pramana Padmodaryana (pemain teater), Goenawan Mohamad (sastrawan), H.B Jassin (kritikus sastra), Misbach Yusa Biran (sutradara film dan sineas), Ayip Rosidi (penulis).
Kemudian, Asrul Sani (penulis naskah drama dan sutradara film), Moh. Amir Sutaarga, Oesman Effendi, D. Djajakusuma (sutradara film), Sjuman Djaja (sutradara film) dan D.A Peransi (perupa). Sementara itu, nama Ismail Marzuki dipilih lantaran menghormati karya-karyanya yang lebih dari 200 lagu.
Ismail Marzuki merupakan seniman asal Betawi yang telah menciptakan lagu-lagu perjuangan bangsa seperti Berkibarlah Benderaku, Nyiur Melambai, Halo Halo Bandung dan Sepasang Mata Bola. Ismail Marzuki pun juga telah dianugerahi gelar pahlawan nasional secara resmi diumumkan pada 10 November 2004.
Taman Ismail Marzuki Dulu dan Sekarang
Wajah baru TIM Jakarta.
Totalnya ada tujuh gedung utama di kompleks TIM yang diubah fisiknya, yaitu Gedung Parkir Taman, Gedung Ali Sadikin, Gedung Oesman Effendi, Masjid Amir Hamzah, Teater Tuti Indra Malaon, Graha Bhakti Budaya, serta Gedung Trisno Soemardjo.
Jika dulu TIM hanya memiliki 11 persen ruang terbuka hijau (RTH), setelah revitalisasi TIM memiliki 27 persen RTH.
Posisi RTH ini unik, karena berada di atas Gedung Parkir yang sebelumnya tidak terawat. Kini, Gedung Parkir TIM juga berfungsi sebagai taman tempat rekreasi, sekaligus tempat strategis untuk menikmati pemandangan Gedung Ali Sadikin yang berundak seperti piano.
Arsitektur gedung panjang yang membentang megah di seberang Gedung Parkir ini, membuat seolah Gedung Ali Sadikin bagai rumah panggung tradisional.
Gedungnya yang berundak-undak seperti piano juga memiliki fasad nan unik. Jika dilihat dari jauh, maka fasad gedung ini menunjukkan tangga lagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki.
Di sisi belakang Gedung Ali Sadikin, terdapat Gedung Galeri Oesman Effendi yang terhubung dengan Galeri Emiria Soenassa. Bangunan ini disiapkan sebagai ruang pamer seni rupa dengan tinggi langit-langit mencapai sembilan meter, sehingga memungkinkan berbagai jenis karya seni dipamerkan di gedung ini.
Di seberangnya terdapat Graha Bhakti Budaya (GBB) yang direvitalisasi total, sehingga berstandar internasional untuk pertunjukan seni yang memungkinkan pagelaran musik orkestra.
GBB berkapasitas 954 kursi penonton, dengan ruang pementas yang dapat menampung sekitar 80 orang. Gedung ini juga memiliki ruang khusus VIP.
TIM juga memfasilitasi panggung pertunjukan seni peran, musik, tari, hingga sastra berskala kecil yang terbuka di Teater Tuti Indra Malaon. Letaknya di dekat kolam melingkar yang dapat menampung sampai 80 orang. Ini merupakan fasilitas terbaru yang dibangun di kawasan TIM.
Di tengah TIM terdapat pula Gedung Trisno Soemardjo. Di sini telah berdiri Planetarium sejak 1969.
Selain Planetarium, gedung seluas 11.940 meter persegi ini memiliki berbagai fasilitas yang menghubungkan berbagai ruangan dengan fungsi berbeda menjadi satu.
Lantai 1 gedung berlantai lima ini terdiri dari Teater Wahyu Sihombing, kantor Akademi Jakarta, pusat UMKM, lobi drop off, lobi Planetarium, ruang kelas Planetarium, dan ruang pameran Planetarium.
Lalu di lantai 2 terdapat ruang kantor Planetarium, galeri Planetarium, ruang auditorium Planetarium, ruang Komunitas Astronomi, ruang latihan Teater Teguh Karya, ruang latihan seni tari, ruang latihan sastra dan multimedia S. Rukiah Kertapati, ruang latihan seni rupa, ruang latihan musik Trisutji Kamal, ruang latihan seni tradisi, museum koleksi TIM, serta Teater Bintang.
Sedangkan lantai 3 terdiri dari Galeri Cipta 1, Galeri Cipta 2, Teras Danarto, dan ruang penyimpanan. Sementara lantai 4 ada Kineforum, Teater Asrul Sani, Teater Sjuman Djaya, ruang serbaguna Sjuman Djaya. Terakhir, lantai 5 dikhususkan menjadi ruang terbuka serbaguna.
Laporan: Saddam