Loading
Mitos dan fakta DBD (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Virus Dengue penyebab Demam Berdarah Dengue ( DBD) merupakan salah satu virus yang amat terkenal, karena kerap muncul di tengah masyarakat. Sejalan dengan kemasyuran DBD dan virusnya tersebut, ada sederet informasi yang tak seluruhnya benar, memang sebagian adalah fakta, namun sisanya adalah hoax. Berikut ini adalah sejumlah mitos dan fakta yang ada di sekitar persoalan DBD.
Mitos: Dengue menyerang lebih sering menyerang orang yang lebih tuah, daripada orang muda yang berusia di bawah 45 tahun.
Fakta: DBD berdampak lebih buruk pada lansia, daripada orang muda berusia 45 tahun ke bawah. Adalah umum bagi seorang muda untuk menderita demam berdarah, dan -bahkan, tidak menyadarinya, hanya karena penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas. Alasan lebih banyak orang lanjut usia meninggal karena demam berdarah adalah karena sistem kekebalan tubuh mereka yang secara alami lebih lemah. Juga, sistem kekebalan tubuh pada orang lanjut usia, harus 'berurusan' dengan berbagai macam masalah lain. Mitos: Demam berdarah hanya menyerang bagian-bagian wilayah tertentu.
Baca juga:
DKI Gencarkan Vaksinasi untuk Cegah DBDFakta : Seseorang dengan demam berdarah otomatis menjadi hot spot. Memang benar bahwa jika kita tinggal di kluster demam berdarah aktif, kemungkinan tertular demam berdarah lebih tinggi. Namun, demam berdarah bisa menyebar dengan sangat mudah. Hanya satu orang yang terinfeksi dapat mengubah sebuah area menjadi terjangkit demam berdarah aktif.
Mitos: Semprotan atau lotion penolak nyamuk akan membuat kita tetap aman dari DBD.
Fakta: Nyamuk Aedes aegypti menggigit orang hanya dalam sehari. Diketahui, nyamuk ini mengigit di siang hari, dan berbeda dengan dengan nyamuk Anopheles, penggigit malam hari, yang menyebarkan malaria.
Mitos : Anggapan awam yang paling popular adalah khasiat jus jambu yang diyakini bisa menyembuhkan DBD, karena dianggap berkhasiat meningkatkan trombosit.
Fakta: Sampai saat ini belum ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan DBD, sedangkan vaksinnya saja masih diproses. Secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan khusus bagi penderita DBD. Karena penyakit ini bersifat self limiting disease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, jambu biji sebenarnya tidak berkhasiat menambah trombosit darah. Hanya saja kandungan vitamin C yang tinggi berguna untuk memperbaiki daya tahan tubuh melawan virus dengue penyebab DBD. Secara berlahan, Trombosit penderita DBD akan meningkat dengan sendirinya. Prinsip pengobatan secara umum adalah mencegah agar penderita tidak sampai mengalami dehidrasi. Caranya ? adalah dengan mengonsumsi cairan khususnya yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman lain yang manis.
Mitos: Minum jus daun pepaya dapat menyembuhkan DBD
Fakta: Tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit DBD. Daun pepaya memang telah terbukti meningkatkan jumlah trombosit dalam darah, namun bukan berarti bisa menyembuhkan DBD. Tahap pengobatan DBD adalah hidrasi, pemantauan ketat dan dukungan selama fase kritis penyakit.
Mitos: Rumah saya bersih sehingga tidak berisiko terkena DBD
Fakta: Selama ada tempat berkembang biak nyamuk, seperti air tergenang, maka Aedes aegypti dapat berkembang. Bahkan, nyamuk DBD dapat terbang dari rumah tetangga dengan jarak hingga 400 meter. Seseorang yang terinfeksi DBD, terutama ketika tanpa gejala, bisa menjadi media penularan yang dapat menularkan ke orang lai tanpa diketahui. Tidak terbatas pada rumah, tetapi mereka bisa pergi ke sekolah atau di luar ruangan lainnya, sehingga semua orang berisiko terinfeksi.