Studi Ungkap Paparan Sinar Matahari “Aman” Tetap Bisa Picu Kerusakan Kulit


 Studi Ungkap Paparan Sinar Matahari “Aman” Tetap Bisa Picu Kerusakan Kulit Berjemur dibawah matahari pagi, membuat tubuh berenergi sepanjang hari (Net)

SYDNEY, ARAHKITA.COM – Sebuah penelitian di Australia mengungkap bahwa paparan sinar matahari, bahkan pada waktu yang selama ini dianggap aman seperti pagi dan sore hari, tetap dapat menyebabkan kerusakan kulit dan berpotensi meningkatkan risiko kanker kulit.

Temuan yang dirilis oleh QIMR Berghofer Medical Research Institute Australia pada Rabu (1/7/2026) ini menantang anggapan umum dalam kesehatan masyarakat bahwa aktivitas di luar ruangan di luar jam puncak matahari relatif aman.

Profesor Rachel Neale dari QIMR Berghofer menjelaskan bahwa risiko paparan sinar ultraviolet (UV) tidak hanya ditentukan oleh waktu, tetapi oleh total dosis radiasi yang diterima kulit.

“Anda bisa mendapatkan dosis radiasi UV yang sama dalam waktu singkat pada tengah hari atau dalam waktu yang lebih lama pada awal atau akhir hari. Penelitian kami menunjukkan bahwa total dosislah yang penting, tidak masalah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkannya,” ujar Neale, dikutip dari laporan resmi institut tersebut.

Ia menambahkan bahwa banyak orang sering merasa lebih aman saat matahari tidak terlalu terik, sehingga tanpa sadar menghabiskan waktu lebih lama di luar ruangan tanpa perlindungan yang memadai. Kondisi ini justru dapat meningkatkan risiko kerusakan kulit.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Photochemistry and Photobiology tersebut menunjukkan adanya bukti kerusakan biologis pada kulit, termasuk perubahan pada DNA dan respons stres sel, baik pada paparan singkat maupun berkepanjangan.

Para peneliti juga menemukan peningkatan penanda biologis seperti protein p53, yang berkaitan dengan kerusakan DNA, meskipun tingkat paparan UV belum mencapai batas yang menyebabkan kulit memerah.

Profesor David Whiteman dari QIMR Berghofer menegaskan bahwa paparan sinar UV dalam tingkat rendah tetapi berulang tetap dapat memberikan dampak kumulatif bagi kesehatan kulit.

“Paparan level rendah yang berulang dapat memiliki dampak kumulatif pada kulit dan dapat menyebabkan mutasi yang akan memicu kanker kulit,” kata Whiteman.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa sinar matahari tetap dibutuhkan tubuh, terutama untuk produksi vitamin D dan kesehatan secara umum. Namun, mereka mengingatkan pentingnya perlindungan kulit yang konsisten, termasuk penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, dan pembatasan waktu di bawah sinar matahari langsung, bahkan saat intensitasnya rendah.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru