Malam Hari Sering Gelisah dan Cemas? Ini Penyebab yang Kerap Tak Disadari


 Malam Hari Sering Gelisah dan Cemas? Ini Penyebab yang Kerap Tak Disadari Ilustrasi-- Orang dengan gangguan kecemasan. (Pexels/Nathan Cowley)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Banyak orang merasa lebih tenang saat malam tiba. Namun bagi sebagian lainnya, justru pada waktu inilah pikiran menjadi lebih aktif, kecemasan muncul, dan rasa gelisah sulit dikendalikan. Kondisi tersebut ternyata berkaitan dengan cara otak dan sistem saraf bekerja setelah menjalani aktivitas yang padat sepanjang hari.

Pendiri sekaligus Direktur Gateway of Healing, Dr. Chandni Tugnait, menjelaskan bahwa kecemasan yang muncul pada malam hari bukan selalu menandakan adanya gangguan tidur atau masalah psikologis tertentu.

“Bagi banyak orang, malam hari bukanlah waktu istirahat, melainkan lebih seperti penghitungan tak terencana dari hari yang terlalu ramai untuk diproses. Ini bukan kegagalan pribadi atau gangguan tidur, tetapi inilah yang terjadi ketika sistem saraf telah kelebihan beban selama berjam-jam dan akhirnya diberi momen tenang,” ujar Tugnait, seperti dikutip dari Hindustan Times Rabu (10/6/2026) waktu setempat..

Menurutnya, salah satu penyebab utama munculnya kecemasan pada malam hari adalah otak yang tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat selama siang hari. Aktivitas yang padat, notifikasi yang terus berdatangan, tenggat pekerjaan, hingga paparan berbagai informasi digital membuat otak bekerja tanpa jeda.

Ketika malam datang dan lingkungan menjadi lebih tenang, berbagai pikiran yang sebelumnya tertunda mulai bermunculan. Akibatnya, seseorang justru merasa cemas, khawatir, atau sulit menenangkan diri menjelang tidur.

Selain itu, faktor hormonal juga berperan penting. Tugnait menjelaskan bahwa hormon stres seperti kortisol bisa tetap berada pada level tinggi akibat stimulasi berlebihan sepanjang hari. Kondisi ini membuat sistem saraf terus berada dalam mode siaga, seolah-olah sedang menghadapi ancaman.

“Kortisol yang masih tinggi membuat sistem saraf tetap waspada pada ancaman yang sebenarnya tidak pernah datang,” jelasnya.

Akibatnya, tubuh menjadi sulit rileks, jantung terasa lebih berdebar, dan pikiran terus aktif meski waktu istirahat telah tiba.

Penyebab lainnya adalah kebiasaan tubuh yang terbiasa dengan ritme aktivitas dan kebisingan sepanjang hari. Saat bekerja atau beraktivitas, perhatian seseorang biasanya teralihkan oleh berbagai tugas dan interaksi. Namun ketika suasana berubah menjadi sunyi pada malam hari, pikiran yang sebelumnya tersimpan kembali muncul dengan intensitas yang lebih kuat.

Untuk mengurangi kecemasan di malam hari, Tugnait menyarankan penerapan rutinitas sebelum tidur yang konsisten. Beberapa aktivitas sederhana yang dapat dilakukan antara lain menjauhkan diri dari layar gawai, menulis jurnal, membaca buku, melakukan peregangan ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan.

Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat membantu mengirimkan sinyal kepada tubuh dan sistem saraf bahwa waktu untuk beristirahat telah tiba, sehingga pikiran menjadi lebih tenang dan kualitas tidur pun meningkat.


Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru