Loading
Tidur Nyenyak dan REM Investasi Kesehatan dan Rahasia Umur Panjang Freepik
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Kualitas hidup yang baik tidak hanya ditentukan oleh pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga oleh durasi tidur yang cukup. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature menemukan bahwa tidur selama enam hingga delapan jam setiap malam berkaitan dengan proses penuaan biologis yang lebih lambat.
Melansir dari laman Eating Well pada Kamis (4/6/2026), penelitian tersebut menunjukkan bahwa rentang tidur paling ideal berada antara 6,4 hingga 7,8 jam per malam. Di luar rentang itu, baik tidur terlalu singkat maupun terlalu lama, ditemukan memiliki kaitan dengan peningkatan tanda-tanda penuaan biologis pada tubuh.
Para peneliti menganalisis data dari sejumlah basis data populasi berskala besar, termasuk UK Biobank yang memuat informasi kesehatan, gaya hidup, serta data biologis dari ratusan ribu peserta.
Baca juga:
Manfaat Tidur Singkat saat Mudik LebaranDalam penelitian ini, tim ilmuwan tidak hanya melihat usia seseorang berdasarkan tanggal lahir atau usia kronologis. Mereka menggunakan pendekatan yang disebut "jam biologis", yaitu metode yang memperkirakan usia organ dan sistem tubuh melalui berbagai biomarker, seperti hasil pemindaian otak dan pemeriksaan darah.
Para peneliti kemudian membandingkan kebiasaan tidur peserta dengan 23 indikator penuaan biologis yang mencakup berbagai organ dan sistem tubuh.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara durasi tidur dan penuaan biologis terlihat pada berbagai sistem tubuh, termasuk otak, jantung, serta jalur yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh," tulis tim peneliti dalam laporan yang dipublikasikan di jurnal Nature.
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa tidur tidak hanya memengaruhi satu aspek kesehatan, melainkan berperan dalam proses penuaan tubuh secara menyeluruh.
Selain berkaitan dengan percepatan penuaan biologis, durasi tidur yang terlalu pendek maupun terlalu panjang juga ditemukan berhubungan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis. Di antaranya depresi, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga risiko kematian yang lebih tinggi.
Menurut para peneliti, kurang tidur kemungkinan memberikan dampak kesehatan yang lebih langsung melalui peningkatan stres biologis, peradangan dalam tubuh, dan gangguan fungsi sistem imun.
"Kurang tidur tampaknya memiliki hubungan yang lebih langsung dengan dampak kesehatan melalui peningkatan stres, inflamasi, dan disfungsi sistem kekebalan tubuh," jelas para peneliti.
Sementara itu, kebiasaan tidur terlalu lama diduga bukan menjadi penyebab utama penuaan, melainkan dapat menjadi indikator adanya kondisi kesehatan tertentu atau proses penuaan biologis yang sudah berlangsung.
Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Artinya, studi tersebut hanya menunjukkan adanya hubungan antara durasi tidur dan penuaan biologis, bukan membuktikan bahwa pola tidur tertentu secara langsung menyebabkan percepatan penuaan.
Selain itu, data durasi tidur diperoleh dari laporan peserta sehingga masih memiliki potensi bias atau ketidakakuratan dibandingkan pengukuran tidur yang dilakukan secara objektif menggunakan perangkat khusus.
Kendati demikian, hasil penelitian ini semakin memperkuat pentingnya menjaga pola tidur yang cukup dan konsisten. Tidur dalam durasi yang ideal tidak hanya membantu tubuh beristirahat, tetapi juga berpotensi mendukung kesehatan organ dan memperlambat proses penuaan biologis dalam jangka panjang.