Sulit Konsisten Olahraga? Coba Ubah Pola Pikir Ini


 Sulit Konsisten Olahraga? Coba Ubah Pola Pikir Ini Tiga pilihan waktu untuk berolahraga di bulan puasa. (Net)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kesulitan meluangkan waktu untuk berolahraga sering menjadi alasan utama seseorang gagal membangun kebiasaan hidup aktif. Namun, para ahli menilai konsistensi olahraga sebenarnya tidak selalu bergantung pada disiplin tinggi, melainkan kemampuan untuk lebih fleksibel dalam menjalankannya.

Ilmuwan perilaku dari Universitas Michigan, Michelle Segar, mengatakan pola pikir yang terlalu kaku terhadap rutinitas olahraga justru dapat menjadi hambatan dalam menjaga kebiasaan sehat.

“Kunci untuk memulai kebiasaan kebugaran dan tetap konsisten menjalankannya bukanlah disiplin yang lebih tinggi, melainkan fleksibilitas yang lebih besar,” kata Segar seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu (27/5/2026).

Menurut dia, aktivitas fisik dalam jumlah kecil sekalipun tetap memberikan manfaat bagi kesehatan. Segar mendorong masyarakat untuk menerapkan pola pikir “semua atau sebagian”, di mana setiap bentuk aktivitas fisik dianggap sebagai pencapaian positif.

“Saya mendorong pola pikir ‘semua atau sebagian’, di mana jumlah atau intensitas aktivitas fisik apa pun adalah sebuah kemenangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan olahraga ringan seperti berjalan kaki, peregangan, atau latihan singkat tetap mampu membantu menurunkan risiko penyakit jantung, menjaga kadar gula darah, serta meningkatkan kesehatan mental.

Selain itu, latihan kekuatan sederhana beberapa kali dalam sepekan juga dinilai efektif untuk menjaga kekuatan otot.

Segar menyarankan agar setiap orang memiliki “menu olahraga” dengan variasi durasi dan intensitas berbeda. Cara ini dinilai membantu seseorang tetap aktif meski rencana olahraga utama tidak berjalan sesuai jadwal.

Pendapat serupa disampaikan Profesor Madya Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Harvard Medical School, Dr. Edward Phillips. Ia menilai olahraga dapat disesuaikan dengan kondisi dan waktu yang dimiliki.

Menurut Phillips, jika seseorang tidak sempat berlari, maka berjalan kaki bisa menjadi alternatif. Begitu juga ketika tidak dapat pergi ke pusat kebugaran, latihan beban tubuh di rumah tetap bisa dilakukan.

“Bahkan jika tidak dapat datang tepat waktu ke kelas olahraga, maka tetap akan pergi dan memberi diri kelonggaran untuk datang terlambat 10 menit,” kata Phillips.

Sementara itu, pelatih pribadi sekaligus pemerhati psikologi positif, Darlene Marshall, menyarankan seseorang membayangkan perasaan setelah berolahraga untuk meningkatkan motivasi.

Ia mencontohkan aktivitas sederhana seperti menari di ruang tamu atau melakukan squat tetap lebih baik dibanding tidak bergerak sama sekali.

“Jika tujuannya adalah untuk menjadi lebih sehat dan memiliki kesejahteraan yang lebih besar, semuanya penting,” ujar Marshall.

Pelatih utama National Academy of Sports Medicine, Rick Richey, menambahkan bahwa kemampuan beradaptasi terhadap jadwal latihan dapat membantu seseorang lebih konsisten menjalani gaya hidup aktif dalam jangka panjang.

Menurut dia, menjaga tubuh tetap aktif secara rutin selama bertahun-tahun jauh lebih penting dibanding mengejar kesempurnaan dalam satu sesi latihan.


Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru