Loading
Ilustrasi pendingin ruangan. (ANTARA/HO-Xiaomi)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Penggunaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) memang menjadi solusi utama untuk menghadapi suhu panas. Namun, pemakaian yang berlebihan ternyata dapat berdampak pada kesehatan, terutama pada sistem pernapasan.
Mengutip laporan Hindustan Times Minggu (17/5/2026), dokter spesialis penyakit dalam Divya Gopal dari Sir H. N. Reliance Foundation Hospital menjelaskan bahwa paparan udara dingin dari AC dapat memicu gejala yang menyerupai flu, terutama saat terjadi perubahan suhu ekstrem.
Menurutnya, kondisi ini sering terjadi ketika tubuh harus beradaptasi dari suhu luar yang bisa mencapai 40 derajat Celsius menuju ruangan ber-AC yang hanya sekitar 20 derajat Celsius.
“Lapisan halus pada hidung dan saluran pernapasan sebenarnya terbiasa dengan perubahan suhu yang terjadi perlahan, bukan secara tiba-tiba. Ketika tubuh mendingin terlalu cepat, pembuluh darah di hidung menyempit lalu melebar dengan cepat, yang dapat menyebabkan vasomotor rhinitis,” ujar Dr. Gopal.
Kondisi tersebut dapat membuat hidung membengkak, produksi lendir meningkat, serta menimbulkan gejala seperti pilek dan hidung tersumbat meskipun tidak disebabkan oleh infeksi virus.
Ia menegaskan bahwa perubahan suhu yang terlalu sering atau “guncangan suhu” dapat membuat tubuh kesulitan beradaptasi dan memicu gejala menyerupai flu biasa.
Selain itu, penggunaan AC juga berdampak pada tingkat kelembapan udara di dalam ruangan. Dalam kondisi ideal, kelembapan berada di kisaran 40–60 persen. Namun, penggunaan AC yang terlalu lama dapat menurunkan kelembapan hingga 20–30 persen.
“Udara kering membuat lapisan lendir di hidung mengering sehingga lebih lemah dan kurang mampu menangkap virus maupun polutan,” jelasnya.
Udara yang terlalu kering juga dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan, hidung tersumbat, hingga rasa tidak nyaman seperti flu ringan. Sebaliknya, lingkungan yang lebih lembap dapat membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan.
Dr. Gopal juga menyoroti pentingnya kebersihan AC. Filter yang kotor dapat menjadi tempat menumpuknya debu, jamur, dan bakteri yang kemudian tersebar ke udara.
Partikel tersebut berpotensi memicu reaksi alergi seperti bersin, kelelahan, dan iritasi hidung yang berkepanjangan.
Ia menyarankan agar perbedaan suhu antara luar dan dalam ruangan tidak terlalu ekstrem, idealnya berkisar 8–10 derajat Celsius.
“Jika suhu di luar mencapai 40°C, Anda bisa mengatur AC di 28 atau 30°C terlebih dahulu, lalu turunkan secara bertahap ke 24 atau 26°C agar tubuh bisa menyesuaikan diri,” ujarnya.
Jika gejala seperti flu musim panas berlangsung lebih dari satu minggu atau disertai demam dan nyeri tubuh, masyarakat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.