Loading
Arsip foto - Sepasang remaja mengambil swafoto dengan ponselnya saat hitung mundur Tahun Baru di Tokyo, Jepang, Kamis (1/1/2026). ANTARA/Xinhua/Jia Haocheng/aa.
TOKYO, ARAHKITA.COM – Sebuah survei terbaru dari Kurihama Medical and Addiction Center mengungkap bahwa sekitar 7 persen anak muda Jepang berusia 10 hingga 19 tahun diduga mengalami kecanduan media sosial atau tergolong sebagai “pengguna patologis”.
Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian remaja mengalami kesulitan mengurangi waktu penggunaan ponsel, bahkan ketika mereka sudah mencoba membatasi diri.
Survei nasional tersebut juga mencatat bahwa kelompok usia 10–19 tahun merupakan pengguna media sosial paling aktif dibandingkan kelompok usia lainnya.
Penelitian ini menyoroti adanya kaitan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental serta potensi keterlibatan dalam perilaku negatif.
Sejumlah negara bahkan mulai mengambil langkah tegas. Di Australia dan Indonesia, misalnya, telah diterapkan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun guna melindungi mereka dari dampak buruk digital.
Di Jepang sendiri, Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang bersama Badan Anak dan Keluarga Jepang tengah membahas langkah penanganan yang tepat untuk mengatasi fenomena ini.
Survei yang dilakukan pada Januari–Februari 2025 itu melibatkan sekitar 9.000 responden dari berbagai kelompok usia di 400 lokasi, dengan 4.650 orang memberikan jawaban.
Para responden diminta menjawab sembilan pertanyaan, termasuk upaya yang gagal untuk mengurangi penggunaan media sosial serta kecenderungan menyembunyikan durasi penggunaan dari keluarga.
Seseorang dikategorikan mengalami kecanduan jika menjawab “ya” pada sedikitnya lima pertanyaan. Hasilnya, ambang batas tersebut dilampaui oleh 7 persen remaja usia 10–19 tahun, angka tertinggi dibanding kelompok usia lain.
Lebih lanjut, dari kelompok yang terindikasi kecanduan, sekitar 30 persen mengaku menghabiskan waktu enam jam atau lebih di media sosial pada hari kerja. Angka itu melonjak hingga 62 persen saat akhir pekan.
Pihak peneliti menyarankan agar orang tua menetapkan aturan penggunaan ponsel sejak awal, termasuk waktu dan tempat penggunaan, serta konsekuensi jika dilanggar.
Selain itu, orang tua juga diminta memberikan contoh yang baik dalam penggunaan perangkat digital sehari-hari.