Ahli Ungkap Dampak Infertilitas pada Keharmonisan Rumah Tangga


 Ahli Ungkap Dampak Infertilitas pada Keharmonisan Rumah Tangga Ilustrasi pasangan mengalami gangguan kesuburan. ANTARA/HO-freepik.com

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Membentuk keluarga merupakan impian banyak pasangan. Namun, perjalanan menuju ke sana tidak selalu mudah, terutama ketika dihadapkan pada kondisi Infertilitas yang dapat memicu tekanan emosional dalam hubungan.

Psikoterapis trauma reproduksi yang berpraktik di California, Oregon, dan Wisconsin, Fenella Das Gupta, menjelaskan bahwa infertilitas sering kali tidak hanya berdampak pada aspek medis, tetapi juga pada dinamika hubungan pasangan.

Dalam tulisan yang dimuat Psychology Today pada Kamis (23/4/2026) waktu setempat, Gupta menyebut bahwa meski perasaan cinta masih ada, infertilitas dapat menciptakan tekanan dan pergeseran emosional dalam hubungan.

“Infertilitas menjadi sangat berat dalam hubungan karena munculnya perasaan yang terasa berubah dan tidak sejalan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa stres akibat kondisi tersebut kerap memunculkan kebingungan, konflik, hingga pertanyaan mengenai masa depan hubungan. Situasi ini menjadi semakin kompleks ketika salah satu pasangan merasa lebih “bersalah” atau bertanggung jawab atas kondisi tersebut.

Dalam beberapa kasus, pasangan juga mengalami penurunan rasa aman emosional. Mereka cenderung membutuhkan lebih banyak kepastian dan bahkan merasa perlu meminta maaf atas situasi yang terjadi.

Perubahan peran juga kerap muncul, di mana salah satu pasangan menjadi lebih dominan sebagai “pengasuh” secara emosional, sementara yang lain menahan perasaan agar tidak menambah beban pasangannya.

Gupta juga menyoroti bagaimana kehidupan sosial dapat memperburuk kondisi emosional pasangan yang mengalami infertilitas. Undangan acara keluarga, perayaan kelahiran bayi, hingga percakapan tentang anak sering kali menjadi pemicu tekanan psikologis.

Situasi yang sebelumnya terasa biasa, kini dapat menjadi pengalaman yang canggung atau menyakitkan secara emosional.

“Acara dan percakapan semacam ini dapat menimbulkan reaksi emosional yang kuat,” ujarnya.

Seiring waktu, kondisi ini dapat memengaruhi komunikasi pasangan. Ada masa ketika keduanya merasa kelelahan secara emosional dan kesulitan untuk membicarakan perasaan masing-masing.

Gupta menambahkan bahwa infertilitas sering kali bertentangan dengan harapan yang sudah lama tertanam dalam diri banyak orang, yaitu bahwa menjadi orang tua adalah bagian alami dari kehidupan.

Namun, setiap pasangan memproses kondisi ini dengan cara yang berbeda. Bagi sebagian perempuan, pengalaman infertilitas sangat terkait dengan identitas dan hubungan emosional terhadap masa depan yang mereka bayangkan.

“Infertilitas bukan hanya tentang kehilangan harapan memiliki anak, tetapi juga kehilangan koneksi dengan masa depan yang dibayangkan,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa infertilitas merupakan masalah yang dialami bersama dalam hubungan. Kondisi ini bukan kegagalan dalam pernikahan, melainkan tantangan yang harus dihadapi oleh dua individu dengan cara yang berbeda.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru