Ilustrasi Ketupat Wikipedia
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Lebaran Ketupat tahun 2026 akan jatuh pada Sabtu (28/3/2026), tepat seminggu setelah Idulfitri 1 Syawal 1447 H yang dirayakan pada Sabtu (21/3/2026). Tanggal ini ditetapkan mengikuti perhitungan delapan Syawal dalam kalender Hijriah yang digunakan umat Islam di Indonesia.
Bagi yang merayakan Idulfitri pada Jumat (20/3/2026), sesuai keputusan Muhammadiyah, Lebaran Ketupat bisa dirayakan sehari lebih awal, yaitu Jumat (27/3/2026). Perbedaan ini muncul karena variasi metode penentuan 1 Syawal antara pemerintah dan beberapa organisasi Islam yang menggunakan hisab.
Lebaran Ketupat juga bertepatan dengan berakhirnya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, yang biasanya dijalankan mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal. Meski bukan hari libur nasional, jatuhnya pada hari Sabtu membuat masyarakat tetap bisa merayakan tradisi ini tanpa mengganggu aktivitas kerja.
Asal-Usul dan Sejarah Tradisi Kupatan
Sejarah Lebaran Ketupat tidak lepas dari Sunan Kalijaga, salah satu Sunan Kalijaga, yang menyebarkan Islam dengan memadukan ajaran agama dan budaya lokal.
Budayawan Zastrouw Al-Ngatawi menjelaskan, “Tradisi kupatan muncul dari adaptasi slametan Nusantara, lalu diberi muatan nilai-nilai Islam sehingga menjadi simbol spiritual yang kaya makna.”
Sunan Kalijaga memperkenalkan dua kali perayaan bakda: Bakda Lebaran pada 1 Syawal dan Bakda Kupat pada 8 Syawal. Sejarawan Agus Sunyoto menambahkan, “Tradisi ini diperkuat oleh hadis yang menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal, sehingga kupatan menjadi penutup ibadah yang bermakna.” Strategi ini membuat dakwah lebih inklusif dan diterima masyarakat Jawa secara harmonis.
Makna Filosofis Ketupat
Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari ungkapan Jawa ngaku lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Filosofi ini sejalan dengan semangat saling memaafkan pasca Idulfitri.
Ragam Perayaan di Berbagai Wilayah
Di Jawa, Lebaran Ketupat dirayakan dengan berkumpul bersama keluarga, mengunjungi sanak saudara, dan menggelar kenduri atau selamatan di rumah masing-masing.
Di Yogyakarta dan Surakarta, tradisi ini lebih meriah dengan kirab budaya, arak-arakan gunungan ketupat, kesenian tradisional, dan pakaian adat. Sementara di Jawa Timur, beberapa wilayah pesisir mengadakan festival ketupat yang menarik wisatawan.
Ketupat yang matang biasanya dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur. Di era digital, tradisi ini semakin dikenal karena banyak masyarakat membagikan momen kupatan melalui media sosial, menunjukkan tradisi ini tetap hidup dan adaptif.
Lebaran Ketupat bukan hanya soal kuliner, tetapi identitas budaya yang memadukan kebersamaan, keikhlasan, dan spiritualitas—nilai yang relevan hingga kini.