Loading
Rupiah Melemah ke Rp16.970 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Lembaga Sensor Film (LSF) mengingatkan para orang tua untuk lebih selektif saat mengajak anak menonton film di bioskop selama masa libur Lebaran. Pemilihan tontonan yang tepat dinilai penting agar anak tidak terpapar konten yang belum sesuai dengan usia dan perkembangan emosinya.
Wakil Ketua LSF, Noorca M. Massardi, mengatakan orang tua sebaiknya memperhatikan klasifikasi usia sebelum memutuskan film yang akan ditonton bersama anak.
“Pilihlah film sesuai dengan klasifikasi usia anak, terutama yang diperuntukkan bagi semua umur. Orang tua juga perlu memahami bahwa mengajak anak menonton bisa menjadi bagian dari proses pembelajaran,” ujar Noorca di Jakarta,Minggu (15/3/2026)
Menurut Noorca, klasifikasi usia pada film dapat dikenali melalui tanda warna yang biasanya ditampilkan sebelum film diputar. Sistem ini bertujuan membantu orang tua menentukan apakah sebuah film layak ditonton anak.
Klasifikasi tersebut meliputi:
Hijau: untuk semua umur
Kuning: untuk penonton usia 13 tahun ke atas
Merah: untuk penonton usia 17 tahun ke atas
Hitam: untuk penonton usia 21 tahun ke atas
Dengan memahami tanda tersebut, orang tua dapat menghindarkan anak dari adegan atau unsur cerita yang belum sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Selain memilih film yang tepat, LSF juga menekankan pentingnya pendampingan orang tua selama anak menonton film. Pendampingan ini membantu anak memahami konteks cerita dan mencegah salah tafsir terhadap adegan tertentu.
“Orang tua sebaiknya menonton dan mendampingi anaknya. Jika anak bertanya tentang adegan tertentu, orang tua bisa menjelaskan dengan bijaksana agar tidak muncul pemahaman yang keliru,” jelas Noorca.
Noorca juga menyarankan orang tua untuk berdialog dengan anak setelah selesai menonton film. Cara ini dapat membantu anak memahami nilai moral dalam cerita sekaligus membedakan mana perilaku yang baik dan tidak baik.
“Jangan sampai anak justru menganggap tindakan negatif seperti mencuri itu menarik karena terlihat menguntungkan di film,” katanya.
LSF menilai anak-anak umumnya belum mampu mengontrol emosi secara matang. Karena itu, pilihan tontonan dapat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan mental dan perilaku mereka.
“Pikirkan masa depan anak. Jika mereka terpengaruh terlalu dini oleh hal-hal yang tidak sesuai usianya, dampaknya bisa kembali kepada keluarga,” ujar Noorca.
Ia menambahkan bahwa adegan kekerasan dalam film, misalnya, bisa saja ditiru anak dalam kehidupan sehari-hari jika tidak dijelaskan dengan benar oleh orang tua.
Karena itu, kehati-hatian dalam memilih tontonan serta pendampingan selama menonton menjadi langkah penting agar pengalaman menonton film bersama keluarga tetap memberikan manfaat positif bagi anak.