Loading
Pameran golok kuno pada kegiatan munggahan, pameran pusakadan sarasehan budaya di Universitas Pakuan, Kota Bogor. (Antara)
KOTA BOGOR, ARAHKITA.COM - Sekitar 300 golok kuno dari berbagai periode sejarah Nusantara dipamerkan dalam kegiatan munggahan, pameran pusaka, dan sarasehan budaya di Gedung Graha Pakuan Siliwangi, Universitas Pakuan, Kota Bogor, Sabtu (13/2/2026).
Pameran ini digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan bekerja sama dengan komunitas Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara (GPSN). Koleksi yang ditampilkan mencakup golok dari era abad 800–900 hingga masa Kesultanan Demak sekitar tahun 1600-an.
Perwakilan GPSN, Gatut Susanta, mengatakan koleksi tersebut menjadi bukti bahwa golok memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam peradaban Nusantara.
“Yang kami bawa ini kurang lebih 300-an koleksi. Ada yang dari masa 800–900, ada juga dari era Demak. Ini bukti bahwa golok memiliki sejarah panjang di Nusantara,” ujar Gatut.
Bukan Sekadar Senjata
Gatut menegaskan, golok tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan diri. Pada masa lampau, golok juga menjadi bagian dari ketahanan pangan dan aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Golok dulu menjadi alat ketahanan pangan, kemudian alat pertahanan, dan sekarang menjadi pusaka. Jangan sampai nanti anak cucu kita ingin melihat golok justru harus ke luar negeri,” katanya.
Nilai filosofis, historis, dan sosial yang melekat pada golok membuatnya kini dipandang sebagai pusaka budaya yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam melestarikan budaya melalui pendekatan akademik.
“Golok ini penting sekali dan harus kita perjuangkan. Kampus mendukung melalui penelitian, kajian sejarah, termasuk bagaimana tradisi ini bisa didigitalisasi,” ujar Didik.
Ia berharap keterlibatan kampus dapat memperkuat literasi budaya sekaligus menarik minat generasi muda untuk memahami nilai sejarah golok sebagai bagian dari pusaka Sunda dan Nusantara.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, turut mengapresiasi penyelenggaraan pameran tersebut.
“Kita cukup bangga karena dari Bogor ini lahir upaya pelestarian golok secara serius. Dokumentasinya lengkap dan didukung perguruan tinggi, sehingga menjadi bahan penting untuk kajian akademis maupun penguatan identitas budaya,” kata Dedie.
Dalam kesempatan itu, FISIB Universitas Pakuan bersama GPSN juga menginisiasi pengajuan golok sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pengakuan internasional terhadap golok sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.