Selasa, 27 Januari 2026

Pekan Mode Pria Paris 2026 Tampilkan Gaya Aman dan Timeless di Tengah Ketidakpastian Global


 Pekan Mode Pria Paris 2026 Tampilkan Gaya Aman dan Timeless di Tengah Ketidakpastian Global Busana pria yang tampil di acara Paris Fashion Week 2026 untuk pakaian pria musim gugur/musim dingin 2026/2027 (ANTARA/Instagram @parisfashionweek)

JAKARTA, ARAHKITA.COM  – Pekan Mode Pria Paris yang berakhir pada Minggu waktu setempat menampilkan arah baru industri fesyen pria: lebih tenang, fungsional, dan tak lekang oleh waktu. Para desainer memilih pendekatan pragmatis dengan risiko minim, mencerminkan kehati-hatian di tengah situasi global yang belum stabil.

Koleksi Musim Gugur/Musim Dingin 2026 dinilai lebih terkendali, baik dari sisi konsep maupun tampilan visual. Setelan jas klasik dengan dasi kembali mendominasi, dipadu palet warna aman seperti hitam, abu-abu, krem, dan cokelat.

“Ini musim yang cukup konservatif, tanpa kejutan besar yang benar-benar mencolok,” ujar Matthieu Morge Zucconi, Kepala Mode Pria harian Le Figaro, kepada AFP, seperti yang dikutip dari Antara.

Siluet busana juga mengalami penyesuaian. Jaket oversized dengan bantalan bahu besar yang sempat populer kini dibuat lebih ramping dan proporsional, meski tetap nyaman dikenakan.

“Saya ingin menciptakan siluet yang lebih pas di badan, seiring cara pandang saya terhadap dunia yang ikut berubah,” kata Emeric Tchatchoua, pendiri label 3.Paradis berbasis di Paris.

Pendekatan serupa diambil Pharrell Williams di Louis Vuitton. Ia menyebut koleksinya dirancang agar tahan lama dan tidak mudah usang. “Busana ini dibuat untuk bertahan, bukan sekadar mengikuti tren sesaat,” tulis Pharrell dalam catatan koleksinya.

Menurut Adrien Communier, editor mode majalah GQ Prancis, kecenderungan ini menandai kembalinya fesyen ke nilai dasar.“Baik konsumen maupun desainer kini mencari pakaian yang relevan untuk kehidupan sehari-hari dan bisa dikenakan lintas musim,” ujarnya.

Meski mayoritas bermain aman, beberapa rumah mode tetap berani bereksperimen. Jonathan Anderson dari Dior menghadirkan kemeja kotak-kotak dengan epaulet rhinestone dan wig eksentrik pada model. Item ikonik Dior, Bar Jacket, juga dihadirkan dalam versi lebih ringkas.

Eksplorasi detail terlihat lewat mantel berhias permata dari Dries van Noten, mantel bulu imitasi di KidSuper dan Willy Chavarria, hingga sulaman, motif bunga, dan jaket bomber patchwork. Sentuhan warna cerah seperti ungu turut muncul dari Dior, Louis Vuitton, Issey Miyake, hingga Études Studio.

Di balik estetika, alasan ekonomi turut memengaruhi arah desain. Ketidakpastian global dan konflik internasional menekan penjualan barang mewah dalam beberapa tahun terakhir.

“Musim ini soal fleksibilitas, kenyamanan, dan daya tahan,” kata Simon Longland, Head of Fashion Buying Harrods London.“Koleksinya terasa tidak dikejar tren, melainkan fokus pada busana yang punya fungsi dan nilai jangka panjang.”

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lifestyle Terbaru