Loading
Gamelan kesayangan Mbah Marijan (Arahkita/Margaretha Purwati)
YOGYAKARTA, ARAHKITA.COM - Bagi para pecinta alam dan pendaki gunung, Desa Kinahrejo adalah tempat yang sangat dikenal sebab desa ini merupakan gerbang utama menuju pendakian ke puncak Gunung Merapi.
Desa Kinahrejo adalah desa paling terakhir yang letaknya dekat dengan puncak Merapi, jaraknya hanya 4,5 km dari puncak Merapi! Nah, di desa inilah dahulu Almarhum Mbah Maridjan (Raden Ngabehi Surakso Hargo) menjalani hari-harinya sebagai Juru Kunci Merapi.
Mbah Maridjan lahir di Dukuh Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta tanggal 5 Februari 1927. Ia mengemban amanah dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Juru Kunci Merapi hingga akhir hidupnya.
Mengunjungi rumah Mbah Maridjan, serasa seperti sedang melakukan napak tilas sosok Mbah Maridjan. Mari kita coba memetik hal-hal baik atau keteladanan dari sosok pemberani Mbah Maridjan semasa hidupnya.
Hal pertama yang terasa menyentuh hati banyak orang adalah beliau sangat memegang teguh janjinya kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menjaga Gunung Merapi sampai akhir hidupnya. Tahun 1982 Mbah Maridjan dikukuhkan sebagai Juru Kunci Merapi menggantikan ayahnya yang kala itu meninggal dunia.
Pengalaman Mbah Maridjan sebagai juru kunci sudah cukup baik sebab sepuluh tahun lamanya beliau telah menjadi Wakil Juru Kunci Merapi, mendampingi ayahnya. Profesi sebagai Juru Kunci Merapi menurut tradisi hanya boleh disandang secara turun-temurun.
Bagi masyarakat Yogya, kedudukan Juru Kunci Gunung Merapi sangat penting. Secara filosofi, hubungan antara Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi serta Pantai Selatan tidak bisa dipisahkan. Tiga titik ini merupakan sumbu imajiner. Di Keraton Yogyakarta Hadiningrat sesungguhnya memiliki banyak juru kunci, salah satunya yaitu Juru Kunci Gunung Merapi.
Masyarakat Yogya mempercayai mitos adanya hubungan yang kuat antara "penunggu" Merapi dengan lingkungan Keraton Yogyakarta. Terbukti bahwa Raden Ngabehi Surakso Hargo menempatkan seorang utusannya untuk melakukan tugas-tugas spiritual dan tugas fisik sebagai Juru Kunci Merapi.
Tugas spiritual seorang Juru Kunci Merapi yaitu menjaga hubungan selaras antara energi alam, unsur-unsur tak kasat mata, serta masyarakat di Gunung Merapi melalui laku adat istiadat Jawi secara turun-temurun. Juru Kunci Merapi tidak melakukan penyembahan terhadap Gunung Merapi melainkan melakukan penghormatan kepada Gusti Allah yang telah memberikan berkah di Merapi.
Secara fisik, Juru Kunci Gunung Merapi bertugas memberikan petunjuk kepada masyarakat desa dan para pendaki perihal dimana saja jalur pendakian yang aman, penyelamatan, hal apa saja yang dilarang, dan sebagainya. Juru Kunci Merapi mengetahui berbagai tanda-tanda alam melalui terawang bathin dan pengalaman (ilmu titen).
Seorang juru kunci adalah sosok yang sungguh mencintai alam. Seorang juru kunci bahkan rela memunguti sampah-sampah plastik (limbah dari oknum wisatawan bahkan segelintir oknum pendaki yang tak bertanggungjawab menjaga kebersihan alam). Itulah yang sering dilakukan Mbah Maridjan semasa hidupnya. Ok, kita harus tertib ya apabila mendaki ke Gunung Merapi ini...jangan sampai membuang sampah sembarangan....malu...malu!
Karena tugas dan tanggung jawabnya yang penting inilah maka orang mengenal sosok Juru Kunci Merapi sebagai penjaga gunung.
Mbah Maridjan menunaikan janjinya menjaga Gunung Merapi sampai akhir hayatnya. Keyakinannya melalui terawang bathin terhadap Merapi membuat Mbah Maridjan enggan ikut mengungsi untuk menghindari erupsi Merapi 2010 lalu. Saat terjadi letusan dasyat Merapi tanggal 26 Oktober 2010 yang meluluhlantakan desa paling dekat dengan Merapi, Desa Kinahrejo, Mbah Maridjan tetap menjaga Merapi.
Beberapa jam kemudian setelah terjadinya erupsi Merapi tersebut, jasad Mbah Maridjan dan 16 orang lainnya ditemukan Tim SAR telah menginggal dunia. Mbah Maridjan meninggal dalam posisi sujud. Rumah Mbah Maridjan rubuh dan rata dengan tanah.
Desa Kinahrejo merupakan wilayah paling rawan terhadap dampak bahaya awan panas (wedhus gembel) yang berasal dari letusan Merapi. Awan panas ini bersuhu antara 600-1.000 Derajat Celcius!
Ada pro dan kontra dari peristiwa heroik Mbah Maridjan yang berakhir seperti ini. Namun tulisan ini hanya sekedar melakukan napak tilas, mencoba melihat hal-hal baik saja dari peristiwa ini. Apa itu? Kesetiaan, cinta bhakti, menepati janji, dan totalitas. Bagi orang yang sudah tiada (meninggal dunia) hendaknya yang diingat/dikenang adalah hal-hal baiknya saja.