Loading
Salah satu spot yang paling menggemaskan di Qilou Old Street adalah 'penerbitan koran jadul'. Di depannya, kita bisa berfoto dengan konsep yang lucu: foto kita ditempatkan di halaman muka, sehingga tampak seperti sedang menjadi berita utama.(Foto: Dok. Pribadi)
Catatan Perjalanan Prof Tjandra Yoga Aditama
HAINAN sering dijuluki sebagai provinsi paling selatan di Tiongkok—dan dari Jakarta, jaraknya terasa dekat. Hanya sekitar empat jam penerbangan, saya sudah tiba di Haikou, ibu kota Hainan yang suasananya santai dan terasa “bernapas pelan”. Tidak terburu-buru, tidak terlalu bising. Cocok untuk pelancong yang ingin menikmati kota dengan ritme yang lebih tenang.
Salah satu magnet utama Haikou adalah kawasan yang disebut orang sebagai Kota Tua. Nama resminya Qilou Old Street, sebuah ruas kota yang seperti punya mesin waktu tersendiri. Begitu masuk area ini, mata langsung disambut barisan bangunan yang unik: ada nuansa Eropa dan Asia yang kental, tapi di beberapa sudut kita juga bisa menangkap pengaruh India dan Arab.
Arsitekturnya membuat saya beberapa kali berhenti bukan karena lelah, melainkan karena ingin menatap detailnya lebih lama. Ada balkon, pilar, dan lengkung yang terasa klasik—seolah sedang berjalan di lorong sejarah yang disusun rapi. Konon, jejak sejarah kawasan ini bisa ditarik jauh ke masa lampau. Sebagian orang bahkan menyebut pengaruh pola arsitektur Yunani yang diperkenalkan para pedagang, terutama di era awal abad ke-19, lalu berbaur dengan gaya Baroque yang mewah dan dramatis.
Di kawasan ini ada sekitar ratusan bangunan yang masih bertahan. Sebagian sudah dilengkapi penjelasan singkat tentang riwayatnya, membuat pengalaman berjalan kaki jadi lebih hidup. Kita bukan sekadar melihat bangunan “cantik untuk difoto”, tapi ikut menyimak kisah-kisah yang pernah lewat di balik dindingnya.
Nah, salah satu spot yang paling menggemaskan di Qilou Old Street adalah “penerbitan koran jadul”. Di depannya, kita bisa berfoto dengan konsep yang lucu: foto kita ditempatkan di halaman muka, sehingga tampak seperti sedang menjadi berita utama. Rasanya seperti sedang bermain peran kecil-kecilan—tapi justru momen seperti ini yang sering jadi kenangan paling menempel saat traveling.
Selain menyusuri Kota Tua, saya juga menyempatkan diri melihat Tin Hau Temple. Tempat ini disebut-sebut memiliki sejarah panjang dan dipercaya awalnya dibangun pada masa Dinasti Yuan (1271–1368). Ada aura yang terasa berbeda ketika memasuki kawasan kuil: lebih hening, lebih teduh, dan membuat langkah otomatis melambat. Bagi saya, kuil seperti ini bukan hanya destinasi religi, tapi juga ruang untuk merasakan sisi lain sebuah kota—sisi yang tak selalu ada di pusat perbelanjaan atau tempat wisata populer.
Perjalanan belum selesai. Dari Haikou saya melanjutkan ke Sanya, kota lain di Hainan yang terkenal sebagai destinasi pantai dan resort. Di sana ada satu tempat yang menarik perhatian banyak wisatawan: sebuah area yang disebut “Bali Village”, sering dianggap sebagai “versi KW Bali”.
Tentu saja, Bali yang asli tetap punya jiwa dan pesonanya sendiri. Tapi melihat bagaimana sebuah tempat mencoba menghadirkan suasana tropis ala Bali di negeri lain tetap memberi pengalaman yang unik—semacam pengingat bahwa budaya bisa menginspirasi lintas batas, dan traveling selalu punya cara untuk membuat kita melihat dunia dari sudut yang tak terduga.