Selasa, 27 Januari 2026

Kiat Tunda Haid dengan Obat Hormon bagi Calon Jamaah Haji Perempuan


 Kiat Tunda Haid dengan Obat Hormon bagi Calon Jamaah Haji Perempuan Kiat Tunda Haid dengan Obat Hormon bagi Calon Jamaah Haji Perempuan. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM -  Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr Cepi Teguh Pramayadi menyampaikan sejumlah kiat mengelola dalam menunda haid dengan obat hormon bagi calon jamaah haji perempuan.

"Supaya ibadahnya lancar, tidak terganggu oleh haid. Jadi yang perlu kita ketahui adalah kapan waktu tepat untuk meminum atau mengonsumsi obatnya," kata dr. Cepi Teguh Pramayadi, Sp.OG(K)FER, MARS di Jakarta, Senin.

Ia menyampaikan terdapat mekanisme agar selama ibadah haji tidak haid. Biasanya yang umum dilakukan adalah menunda dengan mengonsumsi obat hormon.

"Obat itu isinya hormon progesteron, tujuannya adalah membuat fase yang mustinya menstruasi jadi berubah fasenya sehingga tidak menstruasi atau ketunda haidnya," ujarnya  dikutip Antara.

Waktu yang tepat mengonsumsi obat hormon itu, menurut Dokter Cepi, biasanya 14 hari sebelum datang haid berikutnya, atau pada hari ke-14 dari siklus menstruasi hari pertama. Untuk melihat hari atau menandai siklus haid bisa melalui aplikasi.

"Misalkan seseorang nanti menstruasi berikutnya pada tanggal 30 Mei. Berarti minum obatnya dikurangin 14 hari dari tanggal 30. Jadi, mesti minum obatnya mulai dari tanggal 16 Mei," jelasnya.

Obat tersebut, kata Dokter Cepi, diminum sehari dua kali sampai selesai ibadah. Harus disiplin, lantaran kalau masih ibadah namun obatnya berhenti dikonsumsi, besoknya bisa menstruasi padahal masih belum selesai ibadahnya.

Ia juga mencontohkan terdapat kasus meskipun sudah mengonsumsi obat hormonal penunda haid sesuai anjuran, namun mengalami spotting (bercak darah).

Menurutnya, ketika hal itu terjadi, bisa menaikan dosisnya saat di hari itu mengonsumsi obatnya sehari tiga kali. Langkah ini dilakukan sampai spotting (bercak) tersebut hilang, kemudian dosis akan dikembalikan menjadi sehari dua kali.

"Kalau spotting gini masih bisa ibadah. Karena sebetulnya spotting itu akibat dari dinding rahim yang tipis. Jadi bukan menstruasi itu sebetulnya," jelasnya.

Menurutnya, mengonsumsi obat hormon ini terkadang menimbulkan efek mual hingga pusing di awal-awal. Namun, hal itu tidak sampai mengganggu kualitas hidup maupun aktivitas.

Dokter yang berpraktik di Primaya Evasari Hospital itu menegaskan bahwa mengonsumsi obat hormon harus sesuai dengan anjuran dokter, terutama untuk orang dengan riwayat hipertensi hingga stroke.

"Tapi memang harus diperhatikan kondisi-kondisi yang misalkan ibunya ada riwayat hipertensi atau lagi konsumsi obat anti hipertensi, ada riwayat stroke sebelumnya. Itu harus diperhatikan, bukan tidak boleh (mengonsumsi obat hormon itu). Tapi nanti harus dikonsultasikan dulu ke dokternya," katanya.

 

 

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru