Loading
Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ketika menjadi pembicara pada Expert forum on Dengue Prediction, Prevention, and Control” yang diselenggarakan oleh The Centre for Environment and Population Health (CEPH) Unuversitas Griffith Brisbane Australia, Rabu (14/8/2024) di acara melalui zoom. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Direktur Jenderal WHO Dr Tedros, Rabu (14/8/2024) telah menyatakan bahwa kenaikan kasus mpox di Republik Demokratik Kongo (“Democratic Republic of the Congo – DRC”) dan perkembangan kasus di beberapa negara Afrika dinyatakan sebagai Kedarurakan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan dunia, atau istilah resminya adalah “Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)”.
Sesuai aturan yang tercantum dalam International Health Regulations (IHR) maka pernyataan PHEIC oleh Direktur Jenderal WHO berdasar pada rekomendasi “IHR Emergency Committee”, suatu komite independen yang biasa dibentuk WHO kalau ada masalah penyakit menular yang mungkin mewabah.
“Saya sendiri pernah menjadi anggota komite seperti ini untuk penyakit MERS CoV beberapa tahun yang lalu. Nah, untuk mpox ini maka Emmergency Committeenya menyebutkan juga bahwa ada potensi (tentu belum pasti) bahwa mpox ini juga mungkin saja menyebar ke luar benua Afrika, yang artinya juga mungkin saja ke Asia,”kata Prof Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.
Baca juga:
WHO Sebut Mpox Bukan ‘COVID Baru’Lanjut Prof Tjandra Yoga, dalam pernyataan PHEIC ini maka banyak disebutkan bahwa ini diperlukan supaya segera ada upaya internasional yang terkoordinasi, salah satunya tentang vaksinasi. “Saat ini ada dua jenis vaksin yang direkomendasikan oleh “WHO’s Strategic Advisory Group of Experts on Immunization” dan juga sudah disetujui dan tercakup dalam “WHO-listed national regulatory authorities,”kata Prof Tjandra Yoga.
Peningkatan kasus kembali di beberapa negara disebabkan clade 1b yg memang lebih ganas dari clade 2 yang dulu banyak dikenal. Seperti diketahui bahwa Mpox ini pernah dikategorikan sebagai PHEIC dan lalu dicabut karena terkendali, tetapi kini mewabah lagi.
Sehubungan dengan pernyataan PHEIC lanjut dia, maka banyak pihak yang mempertanyakan apakah kita perlu menutup kedatangan dari negara-negara yang kini sedang terjangkit. Kalau ada penyakit apapun yg jadi darurat internasional maka yg negara-negara lakukan bukanlah utamanya menutup perbatasan, tapi memperkuat sistem pengendalian di dalam negerinya.
“Sudah terbukti waktu COVID-19 bahwa menutup perbatasan tidak menghambat COVID mendunia. Belum lagi kalau yang di tutup negara A sampai F misalnya, bagaimana menjamin bahwa di negara G smp L misalnya belum ada kasus, kan tidak mungkin juga menutup perbatasan dari seluruh dunia. Juga, kalau di cek suhu orang di bandara kita misalnya, kalau tidak panas kan belum tentu dia tidak sakit, bisa saja masih dalam masa inkubasi. Nanti sudah sampai negara kita beberapa hari baru panasnya timbul dan penyakitnya sudah terlanjur menulari sekitarnya,”tambahnya.
Jadi menurut Prof Tjandra Yoga yang utama adalah siapkan sistem kesehatan di dalam negeri, walau tentu tetap waspada kemungkinan dari luar negeri. Apalagi sebelumnya kita memang sudah pernah ada beberapa kasus Mpox ini di negara kita.
“Sedikitnya ada lima yang perlu dilakukan di dalam negeri. Pertama, promosi kesehatan yg luas tentang penyakit ini. Ke dua, surveilan untuk deteksi kasus yang mungkin ada di berbagai pelosok negara kita. Ke tiga, peningkatan kemampuan diagnostik pasti untuk mpox ini. Keempat, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan kita di berbagai tingkatannya. Kelima, koordinasi dan kerjasama internasional tentang antisipasi perluasan penyakit antar negara,ungkapnya.
Hal terakhir tambah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, dunia internasional sudah mengubah istilah “monkey pox” menjadi “mpox”, antara lain karena kasus-kasus kini tidak selalu berhubungan dengan monyet. Sehubungan hal itu, maka akan baik kalau kita mengubah dan menyesuaikan istilah Cacar Monyet ini pula dan menggunakan istilah baru yang lebih tepat.