Loading
Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ketika menjadi pembicara pada Expert forum on Dengue Prediction, Prevention, and Control” yang diselenggarakan oleh The Centre for Environment and Population Health (CEPH) Unuversitas Griffith Brisbane Australia, Rabu (14/8/2024) di acara melalui zoom. (Foto: Istimewa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Data WHO menyebutkan bahwa pada awal 2024 ini Indonesia mengalami peningkatan kasus/insiden dengue. Data di laman WHO menyebutkan bahwa sejak 1 Januari sampai 30 April 2024 di negara kita dilaporkan ada 88.593 kasus terkonfirmasi dengue dan 621 kematian akibat penyakit ini, di mana data ini menunjukkan peningkatan tiga kali dibanding periode waktu yang sama di tahun 2023.
Sementara itu, data dari Kementerian Kesehatan kita menunjukkan sampai minggu ke 24 tahun ini bahkan sudah tercatat 131.501 kasus dengue dan 799 kematian, bahkan suspeknya sampai sejumlah 392.888 orang. Belum lagi, siklus peningkatan kasus bermakna kita yang dulu terjadi setiap 10 tahun maka belakangan ini setiap tiga tahun ada peningkatan kasus yang berarti dan memakan korban sakit dan meninggal pula.
Hal tersebut disampaikan Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ketika menjadi pembicara pada “Expert forum on Dengue Prediction, Prevention, and Control” yang diselenggarakan oleh “The Centre for Environment and Population Health (CEPH)” Unuversitas Griffith Brisbane Australia, Rabu (14/8/2024) di acara melalui zoom.
Pembicara lainnya adalah Professor Patricia Dale dari Universitas Griffith, Dr. Jonathan Darbro yang merupakan Presiden/Ketua dari “Mosquito Control Association of Australia” serta Professor Qiyong Liu dari China CDC.
Lebih lanjut Prof Tjandra Yoga mengatakan data dari ASEAN 1 Januari sampai 1 Mei 2024 menunjukkan 219.109 kasus dengue di kawasan kita, dengan 774 kematian, artinya angka kematian-jumlah kematian dibagi jumlah kasus- (Case Fatality Rate CFR) 0,35%. Hanya saja harus kita akui bahwa angka kematian (CFR) kita adalah yang paling tinggi di ASEAN, yaitu 0.70%. Data CFR Malaysia adalah 0,08%, Thailand 0,1%, Filipina 0,32%, Kamboja 0,34%, Vietnam 0,01% dan bahkan Singapura angka CFRnya 0.0%.
“Saya sampaikan juga bahwa pada15 Juni 2011 (13 tahun yang lalu) -ketika masih menjabat DirJen P2PL Kementerian Kesehatan- maka di Museum Nasional Jakarta maka sudah diluncurkan “ASEAN Dengue Day”, yang masih terus diperingati setiap tahunnya di seluruh negara ASEAN sampai sekarang ini. Acara ini didahului dengan ASEAN Dengue Conference pada 13 dan 14 Juli 2011, yang berhasil menyusun “Jakarta Call for Action on the Control and Prevention of Dengue,”ungkap Direktur Pascasarjana Universitas YARSI.
“Kita tentu berharap agar di masa datang pengendalian Dengue kina dapat lebih baik lagi,”pungkasnya.