Apa Itu Dismorfia? Penting Diketahui Buat yang Punya Remaja Putri!


 Apa Itu Dismorfia? Penting Diketahui Buat yang Punya Remaja Putri! Dismorfia lebih sering menyerang remaja putri Foto ilustrasi Medical Daily

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dismorfia tubuh merupakan suatu kondisi kesehatan mental yang menyebabkan pikiran berlebihan dengan persepsi kekurangan dalam penampilan fisik. Dismorfia mempengaruhi banyak remaja, terutama perempuan dan biasa disebut sebagai gangguan dismorfik tubuh (BDD).

Penelitian terbaru menyebutkan, pada remaja putri, BDD enam kali lebih umum terjadi dibandingkan dengan anak atau remaja laki-laki.

BDD mengubah persepsi seseorang terhadap tubuh dan penampilannya, sehingga menghasilkan pikiran dan emosi negatif yang berdampak signifikan pada kualitas hidup. Meskipun kondisi ini biasanya menetap jika tidak diobati secara efektif, BDD sering kali tidak terdeteksi dan tidak diobati pada usia muda.

“Orang-orang muda dengan BDD cenderung tidak secara spontan mengungkapkan gejala-gejala mereka kecuali jika ditanya secara langsung. Maka sangat penting bagi dokter untuk menggunakan alat skrining BDD dan bertanya langsung kepada orang-orang muda tentang masalah penampilan mereka,” kata pemimpin peneliti Georgina Krebs, seorang profesor psikologi di University College London seperti dilansir Medical Daily.

Studi baru ini menganalisis data lebih dari 7.600 anak-anak dan remaja yang menjadi bagian dari survei kesehatan di Inggris. Survei tersebut mencakup pertanyaan mengenai apakah anak tersebut pernah mengalami kekhawatiran tentang penampilannya. Responden yang menjawab “sedikit” atau “banyak” menjalani pemeriksaan tambahan untuk gangguan dismorfik tubuh (BDD).

Menurut hasil yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, BDD mempengaruhi 1,8% anak perempuan dibandingkan 0,3% anak laki-laki.

Para peneliti mencatat bahwa sekitar 70% anak-anak yang didiagnosis dengan BDD juga mengalami setidaknya satu gangguan psikologis lain, seperti kecemasan (59%) dan depresi (32%).

“Skrining BDD pada orang muda dengan gangguan kecemasan dan depresi, penyakit penyerta yang paling umum, kemungkinan akan meningkatkan,” kata Krebs.

Sekitar setengah (46%) dari orang-orang dengan BDD melaporkan tindakan menyakiti diri sendiri atau upaya bunuh diri.

“BDD adalah gangguan mental yang relatif umum, terutama di kalangan remaja perempuan, dan dikaitkan dengan tingginya tingkat komorbiditas psikopatologi, risiko, dan gangguan psikososial. Diperlukan peningkatan kesadaran akan BDD, meningkatkan praktik skrining, dan mengurangi hambatan terhadap pengobatan berbasis bukti,” tulis para peneliti.

Berikut beberapa tanda-tanda BDD:

1) Pikiran berlebihan tentang “kekurangan” atau “kecacatan” tubuh yang mungkin tidak dianggap penting oleh orang lain.

2) Berkali-kali mengecek penampilan di cermin atau selfie dan mengalami serangan panik saat melihat kekurangan yang dirasakannya.

3) Perasaan malu atau jijik terhadap tubuh dan rasa takut atau cemas karena mengira orang lain sedang menatap, menghakimi, atau mengolok-olok tubuhnya.

4) Pasien mungkin memerlukan prosedur medis berulang, seperti bedah kosmetik, untuk "memperbaiki" kekurangannya.

5) Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri terkait dengan penampilan tubuh.

Penyebab:

Meskipun mekanisme pasti yang memicu kondisi ini tidak diketahui, para ahli percaya bahwa faktor-faktor seperti genetika, struktur otak, pengaruh budaya, dan riwayat pengalaman masa kecil yang buruk termasuk pelecehan, penelantaran, atau intimidasi dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi tersebut.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru