Waduh! Vaksin Covid-19 Terbukti Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Otak ​


 Waduh! Vaksin Covid-19 Terbukti Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Otak ​ Vaksin Covid-19 / Foto ilustrasi: pixabay.com

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Para peneliti telah menemukan lebih banyak bukti tentang hubungan antara vaksinasi COVID-19 dan sedikit peningkatan risiko dampak kesehatan tertentu, termasuk miokarditis (radang otot jantung), perikarditis (peradangan selaput pembungkus jantung), dan sindrom Guillain-Barré (autoimun).

Namun, mereka mengingatkan bahwa penelitian tersebut hanya menemukan hubungan dengan dampak buruk terhadap kesehatan dan tidak membuktikan bahwa masalah ini disebabkan oleh vaksin, demikian dilansir Medical Daily.

Dalam studi vaksin COVID-19 terbesar yang dilakukan hingga saat ini yang melibatkan hampir 100 juta orang yang divaksinasi di delapan negara, para peneliti dari Global Vaccine Data Network – sayap penelitian Organisasi Kesehatan Dunia – mengevaluasi tingkat perkiraan versus tingkat observasi dari 13 kondisi medis yang dilaporkan. Kondisi tersebut temasuk bell’s palsy, kejang, miokarditis, perikarditis, dan sindrom Guillain-Barré. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Vaccine, di antara mereka yang menggunakan vaksin AstraZeneca, terdapat risiko 2,5 kali lebih tinggi terkena sindrom Guillain-Barre, kelainan autoimun langka yang memengaruhi saraf yang dapat menyebabkan kelemahan otot dan terkadang kelumpuhan. Selain itu, risiko terjadinya pembekuan darah 3,2 kali lebih besar dari yang diperkirakan.

Para peneliti mencatat peningkatan risiko miokarditis (peradangan otot jantung) terkait dengan ketiga dosis vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna mRNA, dengan risiko tertinggi diamati sehubungan dengan dosis kedua vaksin Moderna.

Mengenai perikarditis (radang lapisan luar jantung), dosis ketiga vaksin AstraZeneca dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 6,9 kali lipat, sedangkan dosis pertama dan keempat vaksin Moderna dikaitkan dengan peningkatan risiko sebesar 1,7 kali lipat dan 2,6 kali lipat.

Bagi mereka yang menggunakan vaksin Moderna, risiko terkena ensefalomielitis diseminata akut, suatu kelainan neurologis, adalah 3,8 kali lebih besar dari yang diperkirakan. Di sisi lain, terjadi peningkatan risiko sebesar 2,2 kali lipat setelah vaksin AstraZeneca.

“Analisis multi-negara ini mengkonfirmasi sinyal keamanan yang telah ditetapkan sebelumnya untuk miokarditis, perikarditis, sindrom Guillain-Barré, dan trombosis sinus vena serebral. Sinyal keamanan potensial lainnya yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut telah diidentifikasi,” tulis para peneliti.

Sekitar 70% populasi global telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19, yang menunjukkan bahwa sekitar 13,57 miliar dosis vaksin telah diberikan di seluruh dunia.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru