Loading
Foto ilustrasi: Sangbuahhati.com
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Tak hanya sindrom baby blues yang mampu menyebabkan psikologis ibu yang baru melahirkan terombang-ambing, ada kondisi yang lebih serius yang perlu diperhatikan, yakni Psikosis Postpartum (Pasca Persalinan).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sebanyak 19,8% Bunda di negara berkembang mengalami gangguan mental atau depresi setelah melahirkan.
Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup atau bertahan tanpa pengobatan yang kemudian berdampak pada tumbuh kembang si kecil.
Baca juga:
8 CEO Kereta Api di Asia Tenggara Gunakan Whoosh untuk Buktikan Kecanggihan dan KeandalannyaLalu, Sebenarnya Apa sih Psikosis Pasca Persalinan Ini? Dokter spesialis kandungan RSIA Puri Bunda Denpasar, dr. Stella Kawilarang, M. Biomed, Sp.oG, menyebut bahwa Psikosis Pasca Persalinan adalah gangguan mental yang terjadi pada ibu selepas melahirkan. Kondisi ini, seperti dilansir laman Sangbuahhati, tak boleh dianggap enteng dan harus ditangani sebagai kondisi gawat darurat.
“Kondisi ini memengaruhi perspektif seorang ibu yang baru melahirkan terhadap realita. Pada kasus ekstrem, Psikosis Pasca Persalinan dapat membahayakan diri sendiri dan bayi yang baru dilahirkan,” terang dokter Stella.
Masalah ini juga menurutnya sangat berbeda dengan sindrom baby blues yang marak dialami Bunda pasca melahirkan. “Baby blues itu kondisi perubahan mood atau suasana hati yang sementara, dan hanya terjadi dalam beberapa hari,” paparnya.
Menurut dokter Stella, Psikosis Postpartum ini rentan terjadi pada ibu yang baru melahirkan anak pertama. Proses adaptasi yang sulit terhadap perubahan yang terjadi menekan psikologis dan akhirnya menyebabkan masalah ini.
“Bunda yang baru punya anak pertama ini biasanya masih belum adaptasi terhadap perubahan yang baru terjadi seperti pola tidur dan kelelahan,” ungkapnya.
Selain itu ada pula beberapa faktor lain yang menyebabkan Psikosis Pasca Persalinan menyerang Bunda, di antaranya adalah:
“Perlu diingat, bahwa para ibu tidak perlu membandingkan kondisinya dengan yang lain. Because every mother is unique and you are the best Mom for your own child,” jelas dokter Stella.
Gejala Psikosis Pasca PersalinanBunda yang mengalami masalah mental pasca persalinan dan mengarah pada Psikosis Pasca Persalinan biasanya menunjukkan gejala-gejala sbb:
“Resiko terjadi Psikosis Postpartum lebih tinggi terjadi pada ibu dengan riwayat gangguan mental sebelumnya. Hal ini juga dapat membahayakan diri sendiri dan bayi yang baru dilahirkan apabila tak segera ditangani,” ujar dokter Stella.
Apa yang Harus Dilakukan?Kondisi Psikosis Postpartum yang dialami Bunda bisa berada di level berbahaya jika tidak segera ditangani dengan baik. Pengidap kondisi ini bisa saja secara tidak sadar membahayakan diri sendiri seperti percobaan bunuh diri hingga melukai buah hati.
Dokter yang juga praktek di Bunda Hospital Denpasar ini menyebut bahwa suami dan keluarga terdekat harus sadar dan memperhatikan perubahan emosional yang terjadi pada ibu yang baru melahirkan.
“Jika sudah terdapat tanda-tanda gangguan mental pasca persalinan dan mengarah pada Psikosis Postpartum, maka harus segera dibawa ke dokter untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut,” jelas dokter Stella.
Kondisi Psikosis Postpartum yang tahap awal, masih bisa diobati dan ditangani dengan baik.
“Jangan takut atau malu untuk mencari bantuan. Semakin cepat dilakukan penanganan, maka pemulihan pun akan lebih cepat dan baik,” sambungnya.
Upaya PencegahanAda beberapa hal yang dapat menjadi tips agar ibu tidak mengalami gangguan mental pasca persalinan yang dapat membahayakan nyawa. Di antaranya adalah:
“Sebab, being a mother is a lifetime learning! Jadi, jangan ragu untuk terus belajar, bertanya dengan yang sudah berpengalaman atau dokter, dan sharing sesame komunitas agar semuanya terasa lebih mudah. Semangat, Mom!” tutup dokter Stella.