Loading
Tenik sunat Mahdian Klem. (Foto: Dok. Rumah Sunat dr Mahdian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Anak Anda ingin disunat? Bagaimana caranya agar anak tidak merasa begitu kesakitan saat disunat. Ada beberapa teknik yang ditawarkan.
Anak lelaki yang memasuki usia menjelang akil balig, tentunya perlu disunat dulu. Ada beberapa teknik dalam melakukan sunat ini.
Diantaranya ada teknik electrical cauter, ada teknik laser, dan ada juga yang masih tradisional, serta tenik Mahdian Klem.
Pemilik Rumah Sunat dr Mahdian, dr Mahdian Nur Nasution, SpBS, tidak menyarankan sunat dengan teknik electrical cauter. Menurutnya, teknik ini sangat berbahaya bagi yang disunat. Fatal, bisa saja penis terpotong atau amputasi.
"Teknik electrical cauter ini adalah metode yang paling berbahaya. Jadi teknik yang digunakan electrical cauter itu memang alat yang digunakan untuk sunat yang paling berisiko terjadinya amputasi," kata Dokter Mahdian yang spesialis bedah syaraf ini.
Mengapa berbahaya? Sebab, logam yang panas itu bisa menyebabkan luka bakar pada bagian kelamin. Sebenarnya, electric cauter adalah alat bedah yang digunakan untuk memotong kulit atau pembuluh darah, sehingga pendarahan yang muncul akan minimal.
Hanya saja, alat ini sudah banyak yang dimodifikasikan sedemikian rupa. Ada yang berbentuk lempengan logam yang dipanaskan seperti pemanas air. Karena dimodifikasi itulah teknik ini tidak direkomendasikan.
Walau teknik ini lebih cepat, tambahnya, namun tetap disarankan untuk tidak memilih teknik ini. Kalaupun tetap ingin menggunakan teknik ini harus dipastikan bahwa petugas yang melakukan adalah tenaga medis yang tepat, ahlinya, yaitu dokter spesialis bedah.
Namun, lanjutnya, umumnya sunat dengan teknik ini sangat jarang dilakukan oleh dokter, melainkan orang yang tidak tepat. Karena itu, masyarakat diminta untuk berhati-hati jika tidak ingin menyesal di kemudian hari.
Menurut dia, kalau tepat menggunakannya, sangat bermanfaat karena sunat jadi cepat, menjahit jadi lebih mudah. Tapi kalau penggunaan salah bisa timbulkan luka bakar.
"Bukan manfaat yang di dapat. Bukan cepat sembuh. Jadi lebih lama dan merusak jaringan kulit pada penis," tegasnya.
Intinya, kata Mahdian, dia tidak merekomendasikan metode sunat laser seperti ini dengan alasan risiko kepala penis terpotong, risiko luka bakar karena elemen cauter, jahitan atau bentuk bisa miring, dan risiko pendarahan.
Berbagai risiko ini dapat menyebabkan hasil kurang estetis, sehingga kemungkinan besar akan membuat malu anak seumur hidup.
Dokter Mahdian merekomendasikan metode modern, yaitu Mahdian Klem yang lebih sedikit risiko dan hanya membutuhkan waktu singkat. Pada metode operasi ini, waktu yang dibutuhkan hanya lima menit dan pasien bisa kembali beraktivitas dalam waktu satu hari.
Mahdian Klem adalah satu-satunya klem produksi anak bangsa negeri sendiri. Hebatnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bahkan telah merekomendasi metode ini. Alasannya, karena memperkecil risiko terjadinya infeksi silang, yaitu infeksi karena pemakaian alat yang sama pada satu pasien ke pasien lain, mengingat teknik ini hanya sekali pakai.
"Teknik ini aman untuk segala usia, apalagi untuk bayi yang suka mengompol. Tak ada larangan untuk tak boleh kena air setelah itu," tambahnya.
Menggunakan Mahdian Klem juga lebih mudah bagi operator (dokter, perawat), tidak memerlukan rotasi saat pemasangan tabung dan penjepit klem sehingga posisi penis tidak miring setelah pelepasan tabung, secara kosmetik lebih baik.