Loading
ilustrasi. Seorang pria yang sedang terkena migrain. ANTARA/HO-Pixabay/@lukasberi
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Dokter spesialis saraf subspesialis neurokritikal dan intensif dari RSUI, dr. Ramdinal Aviesena Zairinal, Sp.N(K), menjelaskan bahwa konsumsi minuman berkafein seperti kopi dapat berhubungan dengan munculnya migrain atau sakit kepala, tergantung pada cara dan pola konsumsinya.
Menurut dokter yang akrab disapa Sena itu, kafein sebenarnya dapat memiliki manfaat dalam kondisi tertentu, bahkan bisa digunakan untuk membantu meredakan sakit kepala. Namun, di sisi lain, zat yang sama juga dapat menjadi pemicu jika tidak dikonsumsi dengan tepat.
“Itulah yang harus dipahami. Harusnya dia (kafein) positif, tapi kenapa jadi yang hal yang negatif itu karena ada perubahan dari cara kita mengonsumsi kafeinnya,” kata Sena di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa perubahan dosis, frekuensi, maupun pola konsumsi kafein dapat memicu gangguan pada tubuh yang berujung pada sakit kepala migrain.
Kafein sendiri tidak hanya terdapat pada kopi, tetapi juga pada minuman bersoda, minuman energi, hingga beberapa jenis obat tertentu.
Sena mencontohkan, seseorang yang awalnya hanya mengonsumsi satu hingga dua cangkir kopi per hari kemudian meningkat menjadi empat hingga lima cangkir, dapat mengalami perubahan respons tubuh terhadap kafein.
Kondisi tersebut dapat membuat kafein yang sebelumnya membantu meredakan sakit kepala justru berbalik menjadi pemicu munculnya gejala yang lebih parah.
Selain peningkatan dosis, perubahan pola konsumsi juga dapat berdampak. Misalnya, seseorang yang biasanya minum kopi setiap pagi tetapi kemudian berubah waktu konsumsi atau bahkan berhenti mendadak setelah terbiasa mengonsumsinya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyebabkan withdrawal atau efek putus zat kafein yang juga bisa memicu sakit kepala.
“Perubahan seperti itu yang tadinya banyak kopinya terus tiba-tiba mendadak maka itu pun juga bisa menyebabkan gejala sakit kepalanya akibat withdrawal atau berhenti yang mendadak dari si kafein tersebut. Jadi yang salah tuh bukan si kafeinnya tapi bagaimana kita menggunakannya,” ujarnya.
Sena menegaskan pentingnya konsistensi dan kesadaran dalam mengatur konsumsi kafein agar tidak menimbulkan dampak kesehatan yang tidak diinginkan, terutama bagi mereka yang rentan mengalami migrain.