Ilustrasi - Seorang wanita sedang menahan sakit perut. ANTARA/HO-Pexels/am.
Ahli gastroenterologi dan hepatologi, dr. Saurabh Sethi, mengingatkan bahwa sejumlah tanda awal seperti kram perut, kembung, perubahan pola buang air besar, hingga kekurangan zat besi tanpa sebab yang jelas, kerap diabaikan oleh penderitanya.
"Kram, kembung, dan perubahan usus pada wanita muda seringkali diabaikan selama bertahun-tahun dan kanker usus besar tumbuh secara diam-diam sepanjang waktu. Tiga dari empat diagnosis di usia muda sudah berada pada stadium lanjut ketika akhirnya terdeteksi," ujar Sethi, dikutip dari Hindustan Times, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak kasus baru teridentifikasi saat kanker sudah memasuki tahap lanjut, sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
Baca juga:
Waspada! Kekurangan Vitamin D Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Usus Besar, Wanita Paling RentanSethi juga menyoroti perubahan pola makan modern sebagai salah satu faktor yang turut memengaruhi peningkatan kasus kanker usus besar, terutama pada usia muda.
Konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dinilai dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, mengurangi asupan makanan alami (real food), serta memicu peradangan kronis yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Ia mencatat bahwa kasus kanker kolorektal dini mengalami peningkatan sekitar tiga persen sejak 2013, seiring meningkatnya konsumsi makanan olahan di berbagai negara.
Selain pola makan, dr. Sethi menekankan pentingnya asupan serat untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan dan mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus besar.
“Rata-rata wanita Amerika hanya mendapatkan 15 gram serat per hari, sekitar 40 persen di bawah rekomendasi 25 gram yang dibutuhkan bakteri usus,” katanya.
Asupan serat yang cukup diyakini dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobioma, mengurangi peradangan, serta menurunkan risiko gangguan serius pada usus.
Selain faktor makanan, stres pada wanita muda juga disebut dapat memperburuk kondisi kesehatan usus. Stres berlebihan dapat memicu peradangan, mengganggu keseimbangan mikrobioma, dan mempercepat kerusakan sel pada dinding usus besar.
Kombinasi faktor gaya hidup ini membuat risiko kanker usus besar semakin meningkat, terutama jika tidak disertai deteksi dini.
Meski pemeriksaan kanker usus umumnya dianjurkan mulai usia 45 tahun, sejumlah kasus menunjukkan bahwa wanita usia 30-an juga bisa terdiagnosis penyakit ini.
Masalah utama terletak pada gejala yang sering disalahartikan sebagai gangguan ringan, sehingga pemeriksaan medis baru dilakukan ketika kondisi sudah berkembang ke stadium lanjut.
Karena itu, kesadaran terhadap gejala awal menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan dan deteksi dini kanker usus besar pada wanita muda.