Loading
Ilustrasi merokok AntaraHOPixabay
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Kebiasaan merokok selama ini lebih sering dikaitkan dengan penyakit paru-paru, gangguan pernapasan, hingga penyakit jantung. Namun, banyak orang belum menyadari bahwa penggunaan tembakau juga dapat berdampak serius terhadap kesehatan tulang dan tulang belakang.
Dokter sekaligus Konsultan Utama Bedah Ortopedi dan Trauma Kompleks di KIMS Hospitals Bengaluru, Dr. Kumardev Arvind Rajamanya, menjelaskan bahwa kandungan nikotin dan zat berbahaya lainnya dalam rokok dapat mengganggu aliran darah yang dibutuhkan tulang untuk tetap sehat dan kuat.
“Tembakau memiliki pengaruh besar terhadap tulang belakang. Cakram di antara tulang belakang kita bertindak sebagai bantalan dan membantu penyerapan goncangan. Pada perokok, kerusakan cakram ini terjadi lebih cepat akibat kurangnya nutrisi dan hidrasi,” ujar Dr. Kumardev, seperti dikutip dari Hindustan Times, Rabu (3/6/2026).
Menurut Dr. Kumardev, cakram tulang belakang yang mengalami kerusakan lebih cepat dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari nyeri punggung kronis hingga prolaps cakram atau kondisi yang dikenal sebagai saraf terjepit.
“Banyak anak muda terkejut ketika mengetahui bahwa penggunaan tembakau bisa menjadi penyebab nyeri punggung bawah yang mereka alami,” katanya.
Kerusakan pada cakram tulang belakang terjadi karena berkurangnya suplai nutrisi dan cairan yang dibutuhkan jaringan tersebut untuk tetap berfungsi optimal.
Tulang merupakan jaringan hidup yang terus memperbaiki diri secara alami. Namun, proses tersebut dapat terganggu akibat paparan nikotin dan berbagai zat kimia berbahaya dari produk tembakau.
Dr. Kumardev menjelaskan bahwa aliran darah yang terhambat membuat pasokan oksigen dan nutrisi ke area tulang menjadi berkurang, sehingga proses penyembuhan setelah cedera atau operasi berlangsung lebih lambat.
“Dalam praktik saya, saya selalu menekankan kepada pasien bahwa sehebat apa pun tindakan operasi atau alat medis yang digunakan, semuanya tidak akan mampu mengatasi proses penyembuhan yang buruk,” ujarnya.
Pada sejumlah kasus, patah tulang bahkan dapat mengalami kondisi non-union, yaitu kegagalan tulang menyatu kembali setelah mengalami cedera.
Selain memperlambat penyembuhan, merokok juga meningkatkan risiko osteoporosis atau pengeroposan tulang.
Menurut Dr. Kumardev, penggunaan tembakau dalam jangka panjang dapat mengganggu kemampuan tubuh menyerap kalsium serta menurunkan kepadatan tulang.
“Osteoporosis meningkatkan kemungkinan menderita cedera tulang seperti patah pada pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan yang disebabkan oleh kecelakaan kecil,” jelasnya.
Perempuan pasca-menopause termasuk kelompok yang paling rentan mengalami osteoporosis. Namun, pria yang menggunakan tembakau dalam jangka panjang juga memiliki risiko serupa.
Dr. Kumardev juga mengingatkan bahwa tembakau kunyah atau gutka bukanlah alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok.
Banyak orang beranggapan bahwa tembakau kunyah tidak berbahaya karena tidak masuk ke paru-paru. Padahal, nikotin tetap masuk ke dalam tubuh dan memengaruhi metabolisme tulang.
“Nikotin tetap memengaruhi kesehatan tulang, apa pun cara konsumsinya,” tegasnya.
Kabar baiknya, dampak negatif tembakau terhadap tulang dapat mulai berkurang setelah seseorang berhenti menggunakannya.
Menurut Dr. Kumardev, pasien yang menghentikan konsumsi produk tembakau sebelum menjalani operasi ortopedi atau selama masa pemulihan patah tulang umumnya memiliki proses penyembuhan yang lebih baik dan risiko komplikasi yang lebih rendah.
“Begitu penggunaan tembakau berhenti, proses penyembuhan mulai berjalan. Pasien yang berhasil berhenti menggunakan produk tembakau cenderung sembuh lebih cepat dan mengalami lebih sedikit komplikasi,” tuturnya.
Karena itu, bagi mereka yang sering mengalami nyeri punggung berkepanjangan atau patah tulang berulang, kebiasaan merokok dan penggunaan tembakau patut menjadi salah satu faktor yang perlu dievaluasi.