Penelitian Ungkap Jamur Ajaib Psilocybin Berpotensi Membantu Orang Berhenti Merokok


 Penelitian Ungkap Jamur Ajaib Psilocybin Berpotensi Membantu Orang Berhenti Merokok Penelitian terbaru mengungkap psilocybin dalam jamur ajaib berpotensi membantu orang berhenti merokok. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Berhenti merokok bukan perkara mudah. Banyak orang sudah mencoba berbagai cara, mulai dari terapi, plester nikotin, hingga mengurangi konsumsi rokok secara perlahan. Namun kenyataannya, kecanduan nikotin tetap menjadi salah satu ketergantungan paling sulit dihentikan.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa psilocybin — senyawa psikoaktif yang terdapat dalam “jamur ajaib” atau magic mushroom — berpotensi membantu seseorang berhenti merokok dengan tingkat keberhasilan yang cukup menjanjikan.

Dilaporkan dan dikutip dari BBC, temuan ini menarik perhatian dunia medis karena selama dua dekade terakhir hampir tidak ada inovasi besar dalam pengobatan penghentian rokok.

Nikotin Disebut Sama Adiktifnya dengan Kokain

Nikotin dalam rokok dikenal sangat adiktif. Bahkan sejumlah ahli menyebut tingkat kecanduannya setara, atau mungkin lebih tinggi, dibandingkan kokain dan heroin.

Menurut laporan tersebut, sekitar 70 persen perokok dewasa sebenarnya ingin berhenti merokok. Namun, kurang dari 10 persen yang benar-benar berhasil setiap tahunnya.

Hal inilah yang membuat para ilmuwan terus mencari pendekatan baru untuk membantu para perokok keluar dari lingkaran kecanduan.

Salah satu pendekatan yang kini mulai mendapat perhatian adalah terapi menggunakan zat psikedelik seperti psilocybin.

Apa Itu Psilocybin?

Psilocybin merupakan senyawa alami yang ditemukan pada beberapa jenis jamur halusinogen. Saat dikonsumsi, zat ini dapat memengaruhi persepsi, emosi, hingga cara seseorang memandang hidup dan dirinya sendiri.

Meski masih ilegal di banyak negara dan penggunaannya diawasi ketat, berbagai penelitian mulai mengeksplorasi manfaat terapeutik psilocybin untuk kesehatan mental, termasuk depresi, trauma, kecemasan, hingga kecanduan.

Dalam studi yang dibahas BBC, para peneliti menemukan bahwa pengalaman psikedelik ternyata mampu mengubah cara seseorang memandang kebiasaan merokok.

Banyak peserta penelitian mengaku merasa nilai hidup dan prioritas mereka berubah setelah menjalani terapi. Rokok yang sebelumnya terasa penting, mendadak kehilangan maknanya.

Profesor psikiatri dan ilmu perilaku dari Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat, Matthew Johnson, mengatakan pengalaman tersebut seperti “menggeser” hambatan psikologis yang selama ini membuat seseorang sulit berhenti merokok.

Hasil Penelitian Dinilai Menjanjikan

Pada Maret 2026, Johnson dan timnya menerbitkan penelitian terbaru mengenai terapi psilocybin untuk penghentian merokok.Penelitian tersebut melibatkan 82 peserta yang dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menerima dosis tinggi psilocybin, sementara kelompok lainnya menggunakan plester nikotin.

Kedua kelompok tetap menjalani terapi perilaku kognitif selama beberapa minggu.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Enam bulan setelah terapi dilakukan, sekitar 52 persen peserta yang mengonsumsi psilocybin berhasil tetap tidak merokok. Sementara pada kelompok plester nikotin, tingkat keberhasilannya hanya sekitar 25 persen.

Artinya, kelompok psilocybin memiliki peluang jauh lebih besar untuk berhenti merokok dibandingkan metode konvensional.

Bukan Sekadar Halusinasi

Para ilmuwan percaya bahwa efek psilocybin bukan hanya soal halusinasi sesaat.

Ahli saraf dari Universitas California Berkeley, Gül Dölen, menjelaskan bahwa zat psikedelik diduga mampu membuka kembali “periode kritis” di otak — yaitu fase ketika otak lebih fleksibel dan mudah membentuk kebiasaan baru.

Dalam kondisi tersebut, terapi perilaku kognitif menjadi lebih efektif karena otak lebih siap menerima pola pikir dan kebiasaan baru, termasuk meninggalkan rokok.

Peneliti juga menduga bahwa psilocybin membantu memutus pola kebiasaan lama yang selama bertahun-tahun tertanam dalam kehidupan perokok.

“Jika seseorang sudah terlalu lama terjebak dalam pola yang sama, pengalaman ini bisa mengguncangnya,” kata Johnson.

Masih Butuh Penelitian Lebih Besar

Meski hasil awalnya menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa penelitian ini masih berskala kecil.

Sebagian besar peserta penelitian memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan pernah menggunakan zat psikedelik sebelumnya. Karena itu, efektivitas terapi ini pada populasi yang lebih luas masih perlu diuji lebih lanjut.

Selain itu, para peneliti juga masih mempelajari kemungkinan efek samping jangka panjang serta mekanisme pasti bagaimana psilocybin bekerja dalam membantu penghentian rokok.

Saat ini, Johnson dan timnya sedang menjalankan uji klinis yang lebih besar di beberapa lokasi berbeda di Amerika Serikat. Penelitian tersebut mendapat dukungan dana hampir US$4 juta dari National Institutes of Health (NIH).

Jika hasilnya kembali positif, terapi psilocybin berpotensi menjadi salah satu pendekatan baru dalam membantu jutaan orang di dunia keluar dari kecanduan nikotin.

Harapan Baru untuk Perokok

Bagi banyak orang, berhenti merokok bukan hanya soal kemauan, tetapi juga perjuangan melawan ketergantungan biologis dan kebiasaan psikologis yang sudah terbentuk bertahun-tahun.

Karena itu, munculnya penelitian mengenai psilocybin memberi secercah harapan baru.

Meski belum dapat digunakan secara luas dan masih memerlukan banyak penelitian tambahan, temuan ini membuka kemungkinan bahwa terapi masa depan untuk kecanduan mungkin tidak hanya berfokus pada tubuh, tetapi juga cara manusia memandang hidup, kebiasaan, dan dirinya sendiri.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru