Mengapa Orang Bisa Kehilangan Kendali dan Melakukan Kekerasan?


 Mengapa Orang Bisa Kehilangan Kendali dan Melakukan Kekerasan? Ilustrasi Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (ANTARA/Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Dua kasus pembacokan yang terjadi belakangan ini kembali menimbulkan pertanyaan tentang mengapa seseorang bisa kehilangan kendali hingga melakukan kekerasan.

Menurut Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, otak manusia memiliki dua area utama yang memengaruhi perilaku emosional, yaitu amigdala dan prefrontal cortex.

“Amigdala adalah pusat emosi dasar seperti takut dan marah. Saat seseorang merasa terancam atau tertekan, bagian ini bisa mendominasi dan memicu respons instingtif seperti menyerang, lari, atau membeku,” jelas Novi saat dihubungi ARAHKITA, Kamis (5/3/2026).

Sementara itu, prefrontal cortex berperan dalam berpikir rasional, membuat keputusan, dan mengelola emosi. Namun, jika area ini tidak berkembang optimal, seseorang lebih rentan bertindak impulsif.

“Di situ kekerasan bisa muncul karena emosi lebih kuat daripada akal,” tambahnya.

Faktor budaya dan pola pendidikan juga memengaruhi kemampuan regulasi emosi. Menurut Novi, pola pendidikan yang minim dialog dan budaya yang tidak melatih anak berpikir kritis atau menunda respons dapat memperkuat perilaku impulsif. Paparan media sosial yang intens juga disebut mendorong keputusan cepat tanpa refleksi mendalam.

Pandangan serupa disampaikan Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia. Ia menekankan bahwa kekerasan muncul ketika emosi seseorang melebihi kemampuan untuk mengendalikannya.

“Dalam kondisi ini, emosi seperti marah atau merasa terancam lebih dominan daripada kemampuan berpikir rasional, sehingga individu bertindak impulsif untuk melampiaskan ketegangan emosional,” jelas Ratih.

Selain itu, stres berkepanjangan, kelelahan, konflik interpersonal, riwayat pengalaman kekerasan, hingga penggunaan zat tertentu dapat menurunkan toleransi terhadap frustrasi.

Kedua psikolog menekankan bahwa kemampuan mengenali dan mengelola emosi sejak dini adalah kunci untuk mencegah kekerasan impulsif. Latihan regulasi emosi, pola asuh yang mendukung dialog, dan kesadaran diri dapat membantu seseorang menghadapi tekanan hidup dengan lebih tenang.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru