Penelitian Ungkap Risiko Mikroplastik dari Wadah Plastik Berlabel Aman Microwave. (Halodoc)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Analisis terbaru yang dirilis Greenpeace International memperingatkan bahwa wadah plastik berlabel “aman untuk microwave” tetap dapat melepaskan ribuan partikel mikroplastik dan nanoplastik ke dalam makanan hanya dalam hitungan menit saat dipanaskan.
Laporan tersebut merangkum sejumlah studi ilmiah yang telah ditinjau sejawat tentang dampak pemanasan wadah plastik. Hasilnya menunjukkan panas dapat memicu pelepasan partikel plastik mikroskopis serta bahan kimia tambahan seperti bisfenol dan ftalat, yang dalam berbagai penelitian dikaitkan dengan gangguan hormon, infertilitas, hingga jenis kanker tertentu.
Salah satu studi yang dianalisis, dilansir The Independent, menemukan antara 326.000 hingga 534.000 partikel mikroplastik dan nanoplastik dapat larut ke dalam simulasi makanan setelah lima menit pemanasan microwave. Jumlah ini dilaporkan hingga tujuh kali lebih tinggi dibandingkan pemanasan oven dalam kondisi serupa.
Penelitian yang dirangkum juga menunjukkan plastik jenis polipropilen dan polistiren dapat meningkatkan migrasi zat aditif seperti plasticizer dan antioksidan ke makanan saat dipanaskan. Zat-zat ini ditambahkan untuk meningkatkan fleksibilitas dan daya tahan plastik, namun tidak terikat permanen sehingga mudah berpindah ketika terkena panas.
Menurut Graham Forbes dari Greenpeace AS, banyak konsumen mengira penggunaan kemasan siap saji dalam microwave tidak berbahaya. Ia menilai anggapan tersebut keliru karena paparan mikroplastik dan bahan kimia berpotensi terjadi tanpa disadari.
Dalam banyak sistem regulasi, label “aman untuk microwave” umumnya hanya berarti wadah tidak akan meleleh atau rusak pada suhu tertentu. Standar itu tidak selalu menilai kemungkinan pelepasan partikel mikroskopis atau senyawa kimia ke makanan.
Analisis tersebut menyebut lebih dari 4.200 bahan kimia berbahaya diketahui digunakan dalam plastik, sebagian besar belum diatur khusus untuk kemasan pangan. Setidaknya 1.396 senyawa plastik yang bersentuhan dengan makanan juga telah terdeteksi di tubuh manusia, dengan sejumlah penelitian mengaitkannya dengan gangguan perkembangan saraf, penyakit jantung, obesitas, dan diabetes tipe 2.
Studi lain yang dirujuk menunjukkan wadah plastik yang tergores dapat melepaskan hampir dua kali lebih banyak partikel dibandingkan kemasan baru. Penelitian sebelumnya juga menemukan pemanasan kantong makanan bayi plastik dapat melepaskan miliaran nanoplastik dan jutaan mikroplastik per sentimeter persegi permukaan.
Bukti tambahan menunjukkan partikel plastik dapat berpindah ke air bahkan tanpa pemanasan. Sebuah studi tahun 2024 menemukan satu liter air kemasan rata-rata mengandung sekitar 240.000 partikel plastik, sebagian besar berupa nanopartikel yang cukup kecil untuk menembus sel tubuh.
Secara global, sektor makanan siap saji berkemasan plastik bernilai hampir 190 miliar dolar AS dengan produksi mencapai sekitar 71 juta ton pada 2024. Kemasan menyumbang sekitar 36 persen dari seluruh plastik yang diproduksi, dan produksinya diperkirakan bisa lebih dari dua kali lipat pada 2050.
Greenpeace menilai regulasi belum mengikuti perkembangan bukti ilmiah terbaru mengenai pelepasan mikroplastik dari kemasan pangan. Organisasi itu mendesak pemerintah mendukung perjanjian plastik global yang kuat untuk melindungi kesehatan manusia dan menekan produksi plastik di sumbernya.