Kamis, 27 Agustus 2026

Dehidrasi pada Lansia Sering Tak Disadari, Ini Tanda Halus dan Cara Mencegahnya


 Dehidrasi pada Lansia Sering Tak Disadari, Ini Tanda Halus dan Cara Mencegahnya Dehidrasi pada Lansia Sering Tak Disadari, Ini Tanda Halus dan Cara Mencegahnya. (Freepik)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dehidrasi merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia namun kerap luput dari perhatian. Studi menunjukkan sekitar 17 hingga 28 persen lansia mengalami dehidrasi, tetapi kondisi ini sering baru terdeteksi ketika sudah berkembang menjadi keadaan darurat medis. Banyak keluarga maupun pengasuh mengira gejala awal hanyalah bagian normal dari proses penuaan, sehingga kesempatan pencegahan terlewat.

Risiko dehidrasi meningkat seiring bertambahnya usia karena tubuh mengalami perubahan fisiologis. Kandungan air total dalam tubuh dapat menurun sekitar 10 persen antara usia 50 hingga 80 tahun, sehingga cadangan cairan lansia lebih sedikit dibandingkan orang dewasa muda. Fungsi ginjal juga menurun sehingga kemampuan tubuh menahan air menjadi kurang efisien.

Selain itu, dilansir Medical Daily,mekanisme rasa haus melemah secara signifikan. Lansia sering tidak merasakan haus meskipun tubuh sudah kekurangan cairan. Pada saat rasa haus muncul, dehidrasi biasanya sudah terjadi. Kondisi ini semakin diperparah oleh penggunaan obat tertentu seperti diuretik untuk tekanan darah atau obat diabetes yang meningkatkan frekuensi buang air kecil dan mempercepat kehilangan cairan.

Tanda dehidrasi pada Lansia

Tanda fisik dehidrasi pada lansia sering muncul perlahan sehingga mudah diabaikan. Mulut dan bibir kering merupakan sinyal awal, diikuti kulit yang kurang elastis ketika dicubit. Kram otot, sakit kepala yang memburuk sepanjang hari, mata tampak cekung, serta tubuh terasa lemah juga dapat menjadi petunjuk. Warna urine menjadi indikator sederhana yang bisa diamati; urine berwarna kuning tua atau gelap menandakan tubuh kekurangan cairan. Frekuensi buang air kecil yang menurun juga patut diwaspadai.

Gejala dehidrasi pada lansia sering menyerupai gangguan kognitif seperti demensia. Kebingungan ringan, sulit berkonsentrasi, disorientasi, dan pelupa dapat muncul akibat berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Kondisi ini disebut delirium dan berbeda dari demensia karena biasanya membaik setelah tubuh kembali terhidrasi. Kesalahan menilai gejala ini sebagai penurunan kognitif permanen dapat membuat keluarga melewatkan penanganan yang sebenarnya sederhana.

Perubahan perilaku juga bisa menjadi tanda tersembunyi. Lansia yang dehidrasi dapat menjadi mudah marah, gelisah, murung, atau kehilangan minat pada aktivitas favorit. Kelelahan berkepanjangan dan rasa lesu sering dianggap akibat usia, padahal bisa disebabkan kurang cairan. Bahkan sembelit pada lansia kerap berkaitan dengan dehidrasi karena sistem pencernaan memerlukan cairan cukup untuk bekerja optimal.

Pencegahan menjadi langkah paling penting. Lansia perlu diingatkan minum secara teratur meski tidak merasa haus. Pengasuh dapat menyediakan air dalam jangkauan, memberi minuman dengan rasa ringan, serta memantau warna urine dan frekuensi buang air kecil. Memastikan asupan cairan cukup setiap hari dapat mencegah komplikasi serius seperti infeksi saluran kemih, risiko jatuh, rawat inap, hingga penurunan fungsi kognitif.

Memahami tanda halus dehidrasi memungkinkan deteksi dini dan penanganan cepat. Dengan perhatian sederhana terhadap hidrasi, kualitas hidup lansia dapat terjaga sekaligus menghindarkan mereka dari risiko kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru