Kamis, 05 Februari 2026

Keringat Berlebihan tanpa Olahraga: Sinyal Gangguan Medis yang tidak Boleh Diabaikan


 Keringat Berlebihan tanpa Olahraga: Sinyal Gangguan Medis  yang tidak Boleh Diabaikan Keringat Berlebihan Tanpa Olahraga: Sinyal Gangguan Medis yang tidak Boleh Diabaikan. (Medical Daily/Huum/Unsplash)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Keringat sejatinya berfungsi sebagai sistem pendingin alami tubuh. Namun, kondisi ini patut diwaspadai ketika keringat muncul berlebihan tanpa aktivitas fisik, tanpa cuaca panas, bahkan saat tubuh sedang beristirahat. Banyak orang mengalami pakaian basah saat hanya duduk, atau keringat malam yang membuat tidur terganggu. Situasi ini kerap dianggap remeh, padahal bisa menjadi sinyal adanya gangguan medis.

Produksi keringat dikendalikan oleh jutaan kelenjar ekrin yang bekerja di bawah sistem saraf. Ketika sistem ini mengirim sinyal berlebihan, tubuh dapat berkeringat jauh melebihi kebutuhan normal. Kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan suhu tubuh, melainkan gangguan pada regulasi saraf, hormon, atau respons terhadap penyakit tertentu.

Hiperhidrosis 

Salah satu penyebab utama keringat berlebihan tanpa aktivitas, dilansir Medical Daily,  adalah hiperhidrosis. Ini merupakan kondisi medis ketika kelenjar keringat bekerja terlalu aktif meski tubuh tidak membutuhkan pendinginan. Secara garis besar penyebab keringat berlebih terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu hiperhidrosis primer dan keringat sekunder yang terkait dengan kondisi medis.

Pada hiperhidrosis primer, masalahnya terletak pada sinyal saraf yang terlalu kuat, bukan karena infeksi, demam, atau gangguan hormon. Keringat biasanya muncul di area tertentu seperti telapak tangan, telapak kaki, ketiak, atau wajah, dan sering kali sudah dialami sejak remaja.

Berbeda dengan hiperhidrosis primer, keringat berlebih juga bisa bersifat sekunder akibat kondisi medis lain. Keringat malam yang membasahi seluruh tubuh sering dikaitkan dengan perubahan hormon, infeksi kronis, gangguan tiroid, diabetes, hingga kanker tertentu. Dalam kasus ini, keringat bukanlah masalah utama, melainkan gejala dari gangguan yang lebih serius.

Menurut International Hyperhidrosis Society, sekitar 3 hingga 5 persen populasi dunia mengalami hiperhidrosis primer. Sementara itu, keringat malam lebih sering dikaitkan dengan masalah sistemik dan membutuhkan evaluasi medis menyeluruh. Pola keringat menjadi kunci penting untuk membedakan apakah penyebabnya bersifat lokal atau berkaitan dengan penyakit tertentu.

Proses diagnosis biasanya dimulai dengan menilai waktu dan lokasi keringat. Dokter akan mencari tahu apakah keringat muncul saat tidur, apakah bersifat simetris, dan apakah disertai gejala lain seperti penurunan berat badan atau demam. Pemeriksaan darah sering dilakukan untuk menyingkirkan gangguan tiroid, infeksi, atau penyakit metabolik. Dalam kasus tertentu, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan tidak ada penyakit serius yang tersembunyi.

Penanganan Hiperhidrosis dan Keringat Malam

Penanganan keringat berlebihan bergantung pada penyebabnya. Untuk hiperhidrosis ringan, penggunaan antiperspiran medis dengan kandungan aluminium klorida sering cukup efektif. Terapi lain mencakup obat yang menekan aktivitas saraf, iontoforesis, hingga suntikan botulinum yang mampu mengurangi produksi keringat selama beberapa bulan. Sementara itu, keringat malam umumnya akan membaik setelah penyakit pemicunya ditangani secara langsung.

Keringat berlebihan bukan sekadar persoalan kenyamanan atau rasa malu. Pola keringat yang tidak wajar merupakan bahasa tubuh yang perlu diperhatikan. 

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru