Loading
Ilustrasi seorang terluka pada bagian hidung (ANTARA/Pexels/Karolina Grabowska)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Para ilmuwan kini meneliti kemungkinan bahwa trauma pada lapisan hidung bisa menjadi jalur bagi bakteri untuk mencapai otak, memicu peradangan, dan pembentukan plak beta-amiloid yang menjadi ciri khas penyakit Alzheimer.
Dilansir dari New York Post, Jumat (16/1/2026), penelitian terbaru fokus pada poros hidung-otak, jalur langsung antara rongga hidung dan sistem saraf pusat yang sangat penting.
Studi dari Universitas Griffith, Australia, 2022 menunjukkan bahwa aktivitas seperti mengorek hidung bisa membawa Chlamydia pneumoniae—bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan—masuk ke saraf penciuman pada tikus. Bakteri ini kemudian menyebar ke otak.
Baca juga:
Bunda, Cegah Alzheimer dengan KolinAkibatnya, sel-sel otak menumpuk protein beta-amiloid yang saling menempel membentuk plak lengket. Plak ini mengganggu komunikasi antar sel otak dan bisa memicu kematian sel, yang berkontribusi pada hilangnya memori dan demensia.
“Penelitian kami adalah yang pertama menunjukkan bahwa Chlamydia pneumoniae dapat langsung masuk melalui hidung ke otak dan memicu patologi mirip Alzheimer,” kata ahli saraf James St John, saat penelitian diterbitkan di Scientific Reports.
Temuan lain pada 2023 menyoroti bahwa neuroinflamasi Alzheimer mungkin sebagian disebabkan oleh patogen yang memasuki otak melalui sistem penciuman. Mikroorganisme ini diyakini bisa mengubah ekosistem bakteri di hidung, menyebabkan infeksi otak kronis ringan dan merangsang peradangan saraf jangka panjang.
Ahli bedah saraf bersertifikat Betsy Grunch menyarankan masyarakat menjaga kebersihan hidung dan menghindari mengorek atau mencabut bulu hidung. “Ini penting untuk mencegah kerusakan lapisan hidung yang bisa menjadi pintu masuk infeksi,” ujarnya.
Penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga kebersihan hidung sebagai langkah pencegahan sederhana, sekaligus memberi wawasan baru dalam memahami mekanisme awal penyakit Alzheimer.