Garam Tak Selalu Berbahaya, Ini Kondisi Medis yang Wajib Membatasi Konsumsinya


 Garam Tak Selalu Berbahaya, Ini Kondisi Medis yang Wajib Membatasi Konsumsinya Ilustrasi - Garam. ANTARA/HO-Pexels/Lorena Martinez

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Garam kerap dicap sebagai musuh dalam pola makan sehat. Berbagai anjuran kesehatan mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi natrium. Namun, tidak semua orang harus menghindari garam secara ketat.

Ahli jantung dan spesialis transplantasi jantung Dr. Dmitry Yaranov menjelaskan bahwa garam memang bisa berdampak buruk, tetapi terutama pada orang dengan kondisi medis tertentu. Karena itu, penting memahami siapa saja yang benar-benar perlu membatasi asupan natrium.

“Pada tubuh tertentu, garam bukan sekadar bumbu. Garam bisa menjadi bahan bakar bagi penyakit,” ujar Dr. Yaranov, dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (10/1/2026).

Kelompok yang Perlu Membatasi Garam

1. Penderita gagal jantungDr. Yaranov menyebutkan, kelebihan natrium dapat memicu retensi cairan pada pasien gagal jantung. Kondisi ini memperparah penumpukan cairan di tubuh dan meningkatkan risiko rawat inap berulang.

“Dalam jangka panjang, kelebihan garam pada pasien gagal jantung berhubungan dengan penurunan angka harapan hidup,” jelasnya.

2. Pasien hipertensi resistenBagi penderita tekanan darah tinggi yang memerlukan tiga hingga empat obat untuk mengontrol tensi, garam dapat menjadi faktor yang sangat merugikan.

“Jika tekanan darah Anda membutuhkan tiga sampai empat obat, garam bukanlah sesuatu yang netral. Ini adalah bentuk sabotase terhadap pengobatan,” tegas Yaranov.

3. Penderita penyakit ginjal kronisPasien dengan gangguan ginjal umumnya dianjurkan membatasi natrium karena garam dapat mempercepat penurunan fungsi ginjal dan menyulitkan pengaturan cairan tubuh.

“Natrium membuat kontrol volume cairan hampir mustahil dilakukan pada pasien ginjal kronis,” katanya.

4. Pasien dengan hipertensi portal dan sirosis hatiPada penderita sirosis hati dengan hipertensi portal, konsumsi garam berlebih dapat memperparah asites atau penumpukan cairan di rongga perut akibat meningkatnya tekanan.

5. Lansia dengan pembuluh darah kakuPada usia lanjut, pembuluh darah kehilangan elastisitas sehingga tubuh tidak lagi memproses natrium secara efisien. Akibatnya, kelebihan garam dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Garam Tetap Penting bagi Tubuh Sehat

Meski memiliki risiko bagi kelompok tertentu, Dr. Yaranov menegaskan bahwa garam tetap memiliki peran vital bagi tubuh yang sehat.

“Natrium penting untuk sinyal saraf, kontraksi otot, keseimbangan cairan, dan pengaturan tekanan darah,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada saran kesehatan yang terlalu disederhanakan.

“Garam bukan musuh bagi semua orang. Garam tidak menghancurkan manusia. Natrium itu penting—untuk saraf, otot, pengaturan tekanan darah, dan kehidupan,” pungkas Dr. Yaranov.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru