Vaksinasi Dunia 2025: Tujuh Terobosan Global dan Catatan Penting untuk Indonesia


 Vaksinasi Dunia 2025: Tujuh Terobosan Global dan Catatan Penting untuk Indonesia Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor Griffith University Australia, yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara. (Foto: Dok. Pribadi)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Menjelang penutupan tahun 2025, World Health Organization (WHO) merilis rangkuman penting tentang perkembangan vaksinasi dunia. Laporan ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengendalian penyakit menular, sekaligus mengingatkan bahwa tantangan lama masih membayangi, termasuk di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor Griffith University Australia, yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara serta Dirjen Pengendalian Penyakit. Sejumlah penghargaan nasional dan internasional yang diterimanya menegaskan kiprah panjang beliau di bidang kesehatan masyarakat.

1. Kematian Campak Turun Tajam, tapi Ancaman Masih Ada

WHO mencatat kematian akibat campak secara global turun hingga 88 persen sejak tahun 2000. Penurunan ini terutama didorong oleh meluasnya cakupan imunisasi, dengan 96 negara telah mencapai status eliminasi campak.

Namun, di sisi lain, beberapa negara justru melaporkan lonjakan kasus, termasuk Indonesia. Kementerian Kesehatan menilai peningkatan ini berkaitan dengan menurunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian Luar Biasa (KLB) campak pun kembali muncul, salah satunya di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

2. Vaksin Malaria Mulai Masuk Program Nasional

Tahun 2025 menjadi tonggak penting dengan diluncurkannya vaksin malaria secara luas. Hingga akhir tahun, 24 negara di Afrika telah memasukkan vaksin malaria ke dalam program imunisasi nasional.

Vaksinasi malaria merupakan satu dari empat pilar pengendalian malaria, bersama penanganan kasus, pengendalian vektor, dan kemoprofilaksis. Bagi Indonesia, isu malaria masih menjadi perhatian serius, terutama di Papua dan wilayah timur lainnya.

3. Harapan Baru Vaksin Tuberkulosis

Penelitian vaksin tuberkulosis (TB) terus menunjukkan kemajuan. Pada November 2025, WHO merilis laporan tonggak kemajuan (milestone report) terkait pengembangan vaksin TB baru yang diharapkan dapat menggantikan vaksin BCG yang telah digunakan lebih dari satu abad.

Sebagai negara dengan jumlah kasus TB terbanyak kedua di dunia, Indonesia berpotensi merasakan dampak besar jika vaksin TB generasi baru ini berhasil digunakan secara luas.

4. Vaksin Meningitis dan Perlindungan Ibu-Bayi

Perkembangan berikutnya menyangkut vaksin meningitis, termasuk vaksin streptokokus grup B untuk melindungi ibu dan bayi baru lahir. Langkah ini sejalan dengan peta jalan global “Defeating Meningitis by 2030”, yang menargetkan penghapusan meningitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat.

5. 25 Tahun Bebas Polio di Pasifik Barat

Tahun 2025 menandai 25 tahun bebas polio di kawasan WHO Pasifik Barat. Meski demikian, Indonesia masih menghadapi kasus vaccine-derived polio virus (VDPV). Kondisi inilah yang melatarbelakangi kewajiban imunisasi polio bagi jemaah haji Indonesia tahun ini.

6. Imunisasi Demam Kuning Diperkuat

WHO juga melaporkan penguatan imunisasi demam kuning, termasuk penyediaan 6 juta dosis vaksin darurat dan program vaksinasi pencegahan yang melindungi lebih dari 38 juta orang di sejumlah negara Afrika.

7. Target Vaksinasi HPV Tercapai

Kemajuan signifikan terlihat pada vaksinasi human papillomavirus (HPV). Sepanjang 2025, target memvaksinasi 86 juta anak perempuan berhasil dicapai. Semakin banyak negara memasukkan vaksin HPV dalam program imunisasi nasional, mendukung visi global agar kanker serviks tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Catatan untuk Indonesia

Laporan WHO di akhir 2025 ini menunjukkan arah yang menggembirakan bagi kesehatan global. Namun, Indonesia juga perlu menyusun analisis dan laporan nasional yang komprehensif agar capaian global tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan aksi nyata di dalam negeri.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru