Jumat, 23 Januari 2026

Mengapa Perempuan Asia Selatan Mengalami Menopause Lebih Dini?


 Mengapa Perempuan Asia Selatan Mengalami Menopause Lebih Dini?  Sebuah studi di AS menyebutkan bahwa perempuan Asia Selatan mengalami menopause lebih cepat dibanding perempuan di AS. (Foto: Tim Graham/Picture Alliance/dw.com)

SEBUAH studi di Amerika Serikat mengungkap bahwa perempuan Asia Selatan cenderung mengalami menopause di usia yang lebih muda dibandingkan perempuan Amerika. Faktor genetik, tekanan sosial, stres, hingga kekurangan vitamin D diduga menjadi penyebabnya.

Menopause Dini: Pengalaman Nyata Perempuan Asia Selatan

Sumrin Kalia, seorang perempuan asal Pakistan yang kini tinggal di luar negeri, mengalami menopause pada usia 37 tahun—jauh lebih awal dari rata-rata global yang berada di kisaran usia 45 hingga 55 tahun, menurut data WHO. Ia mengaku tidak mendapatkan penjelasan medis yang memadai saat tubuhnya mulai mengalami pendarahan berlebihan.

“Semuanya terjadi begitu cepat. Setelah melepas IUD, menstruasi saya berhenti total,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh banyak perempuan Asia Selatan lain yang mulai merasakan gejala perimenopause di usia 30-an atau awal 40-an. Gejala ini datang disertai rasa bingung, tekanan emosional, dan minimnya dukungan medis maupun sosial.

Studi: Perempuan Asia Selatan Menopause Sebelum Usia 50

Penelitian di AS menunjukkan bahwa perempuan keturunan Asia Selatan rata-rata mengalami menopause pada usia 48-49 tahun, lebih muda dari perempuan Amerika yang umumnya menopause di usia 52 tahun. Di negara asal mereka seperti India dan Pakistan, rata-rata usia menopause bahkan lebih rendah, yaitu 46–47 tahun.

Angka kelahiran juga menunjukkan tren penurunan. Di Pakistan, misalnya, jumlah anak per perempuan turun dari 3,61 pada 2023 menjadi 3,19 di 2024. Di India, penurunan ini lebih moderat, dari 2,14 menjadi 2,12. Meski belum terbukti terkait langsung, tren ini menunjukkan adanya perubahan pola kesuburan dan kesehatan reproduksi.

Penyebab Menopause Dini: Kombinasi Genetik, Gizi, dan Stres

Menurut Dr. Palwasha Khan, dokter sekaligus pakar kesehatan hormonal di Pakistan, waktu terjadinya menopause sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan.

"Biasanya, usia menstruasi pertama dan terakhir seorang perempuan mirip dengan ibunya. Jika menstruasi dimulai lebih awal, menopause juga cenderung lebih cepat," jelasnya.

Selain faktor genetik, kekurangan vitamin D dan gangguan kesehatan yang tidak terdiagnosis juga berperan besar. Dr. Khan menyebut bahwa banyak perempuan Asia Selatan mengalami kegagalan ovarium di usia 30-an akibat kurangnya akses pada layanan kesehatan berkualitas sejak usia muda.

Tekanan Sosial: Menikah dan Punya Anak Jadi Prioritas Utama

Di banyak wilayah Asia Selatan, perempuan masih dibebani harapan untuk segera menikah dan memiliki anak. Kesehatan jangka panjang, terutama kesehatan hormonal, kerap diabaikan.

"Fokus utama masih seputar kesuburan. Menopause nyaris tak pernah dibicarakan," ungkap Dr. Khan.

Bahkan terapi hormon (HRT) yang umum digunakan di banyak negara untuk membantu perempuan mengatasi gejala menopause, masih sangat jarang diakses di Asia Selatan. “Dari 10 ribu perempuan, mungkin hanya dua yang pernah mencoba HRT,” tambahnya.

Menopause Bukan Sekadar Soal Fisik

Sabina Qazi, perempuan Pakistan yang menjalani histerektomi radikal karena risiko kanker, mengalami menopause lebih dini akibat operasi tersebut. Ia menceritakan dampak psikologis dan kognitif yang berat, mulai dari brain fog (kabut otak) hingga perasaan kehilangan jati diri.

"Orang-orang menganggap karena saya sudah punya anak, kehilangan rahim dan ovarium bukan masalah. Tapi bagi saya, itu sangat berarti," tuturnya.

Qazi juga menyoroti kurangnya dukungan emosional dari lingkungan sekitar. “Saya merasa harus terus membuktikan bahwa saya masih bisa berpikir jernih, meski pikiran saya seperti terus-menerus kabur,” ujarnya.

Perempuan Asia Selatan Rentan Burnout

Dr. Khan menyimpulkan bahwa proses penuaan dini pada perempuan Asia Selatan bukan hanya soal biologi, tetapi akumulasi dari berbagai tekanan sosial dan mental yang berlangsung lama.

"Perempuan kita terlalu lelah. Terlalu banyak yang dituntut dari mereka—oleh masyarakat, keluarga, bahkan diri sendiri," katanya dilansir dari laman DW.

Stres kronis, peran ganda, dan minimnya dukungan menjadi beban harian yang mempercepat kelelahan mental dan fisik. Seorang perempuan keturunan Asia Selatan yang kini tinggal di Arab Saudi mengungkapkan, “Saya hampir selalu merasa marah, seolah tak pernah benar-benar diberi ruang untuk tenang.”

Menopause dini pada perempuan Asia Selatan adalah fenomena kompleks yang tak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tapi juga sosial, budaya, dan psikologis. Meningkatkan kesadaran akan kesehatan hormonal, memberikan ruang diskusi terbuka, serta memperluas akses pada layanan kesehatan menjadi kunci untuk menjaga kesejahteraan perempuan ke depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru