Loading
China khawatir Golden Dome akan picu perlombaan senjata antariksa. (SINDOnews)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pemerintah China mengkritik keras rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meluncurkan program pertahanan rudal berbasis satelit yang dinamakan "Golden Dome". Beijing menyebut program ini berisiko memicu perlombaan senjata di luar angkasa dan mengancam stabilitas global.
“Proyek tersebut akan meningkatkan risiko mengubah antariksa menjadi zona perang serta mengguncang sistem keamanan dan pengendalian senjata internasional,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (21/5).
Presiden Trump sebelumnya mengumumkan bahwa program "Golden Dome" dengan anggaran sekitar 175 miliar dolar AS bertujuan membangun sistem pertahanan rudal global berbasis satelit yang mampu mencegat rudal saat masih berada di udara. Targetnya, sistem ini mulai beroperasi sebelum akhir masa jabatannya.
Menurut Mao Ning, program ini bersifat ofensif karena mencakup penelitian, pengembangan, hingga penyebaran sistem intersepsi orbital. Ia menegaskan bahwa proyek tersebut melanggar prinsip penggunaan damai luar angkasa yang tercantum dalam Outer Space Treaty (Perjanjian Luar Angkasa).
“'Golden Dome' dimaksudkan sebagai sistem pertahanan multidomain dan berlapis-lapis, namun pada kenyataannya justru memperluas potensi militerisasi luar angkasa oleh AS,” tegas Mao.
Tindakan Trump itu disebut Mao Ning sebagai inisiatif "America First" lainnya yang menempatkan keamanan mutlak AS di atas segalanya.
"Hal ini melanggar prinsip 'undiminished security for all' (keamanan tanpa terkecuali) dan akan merusak keseimbangan dan stabilitas strategis global. China sangat khawatir," tegas Mao Ning.
Baca juga:
AS Akui Penyusutan Keunggulan di Bidang Antariksa Akibat Kemajuan Pesat yang Dicapai ChinaChina, ungkap Mao Ning, mendesak AS untuk menghentikan pengembangan dan pengerahan sistem antirudal global, dan mengambil tindakan konkret untuk meningkatkan kepercayaan strategis antara negara-negara besar dan menegakkan stabilitas strategis global.
Golden Dome direncanakan akan mencakup kemampuan persenjataan berbasis darat dan antariksa yang dapat mendeteksi dan menghentikan rudal di keempat tahap utama serangan potensial.
Keempat tahap utama serangan potensial itu adalah mendeteksi dan menghancurkan sebelum peluncuran, mencegat pada tahap awal penerbangan, menghentikan di tengah lintasan di udara, atau menghentikan saat menit-menit terakhir ketika rudal turun menuju target.
Tindakan-tindakan itu dapat dilakukan karena aksi pencegatan berbasis pada kemampuan satelit dan sensor di antariksa.
Wakil Kepala Operasi Luar Angkasa AS Jenderal Michael Guetlein ditunjuk sebagai orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi kemajuan Golden Dome.
Sementara Kantor Anggaran Kongres AS memperkirakan hanya komponen berbasis ruang angkasa Golden Dome dapat menelan biaya 161 - 542 miliar dolar AS selama 20 tahun ke depan.
Trump telah meminta 25 miliar dolar AS sebagai awal untuk program tersebut dalam rancangan undang-undang keringanan pajak yang perlu disetujui oleh Kongres.
"Golden Dome" disebut menjadi upaya Pentagon untuk menanggulangi rudal-rudal canggih terbaru yang dikembangkan China dan Rusia, termasuk menempatkan satelit dengan kemampuan menonaktifkan satelit penting bagi AS.
AS sebelumnya sudah memiliki banyak kemampuan pertahanan rudal, termasuk rudal Patriot yang telah diberikan AS ke Ukraina untuk mempertahankan diri dari rudal serta serangkaian satelit di orbit untuk mendeteksi peluncuran rudal.
Pesawat dan kapal perang AS juga membantu Israel menangkal serangan Iran tahun lalu dan telah berulang kali menembak jatuh rudal dan pesawat tak berawak yang diluncurkan ke kapal Israel oleh pemberontak Houthi Yaman yang didukung Teheran.