Loading
Dalam 24 jam serangan Israel tewaskan lebih dari 140 orang. (The Guardian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Setidaknya 140 warga Palestina tewas di Gaza dalam 24 jam terakhir. Jika dihitung sejak Kamis, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 300 orang.
“Sejak tengah malam, kami telah menerima 58 martir, sementara sejumlah besar korban masih tertimbun reruntuhan. Situasi di dalam rumah sakit sangat buruk,” kata Marwan al-Sultan, direktur rumah sakit Indonesia di Gaza utara pada Sabtu dini hari. Jumlah korban tewas dalam 24 jam terakhir sedikitnya 146, menurut Reuters seperti dilansir The Guardian.
Meningkatnya serangan itu dikecam oleh Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, pada hari Jumat, yang mengatakan bahwa kampanye pengeboman itu dimaksudkan untuk mengusir warga Palestina dan itu sama saja dengan pembersihan etnis.
"Serangan bom terbaru ini ... dan penolakan bantuan kemanusiaan menggarisbawahi bahwa tampaknya ada dorongan untuk perubahan demografis permanen di Gaza yang bertentangan dengan hukum internasional dan sama saja dengan pembersihan etnis," katanya.
Komentar Turk juga digaungkan oleh sekretaris jenderal PBB, António Guterres, yang menyerukan gencatan senjata permanen saat berbicara di pertemuan puncak Liga Arab di Baghdad pada hari Sabtu.
Baca juga:
Israel Dituduh Lakukan Pembersihan Etnis Setelah Lebh dari 140 Orang Tewas di Gaza dalam 24 JamIsrael mengatakan pemboman itu adalah fase awal dari Operasi Gideon's Chariots, perluasan kampanye di Gaza yang dimaksudkan untuk "mencapai semua tujuan perang di Gaza". Serangan itu disertai dengan penumpukan pasukan dalam jumlah besar di sepanjang perbatasan Gaza, yang bertujuan untuk membangun "kendali operasional" di beberapa bagian Gaza.
Kampanye itu, serta blokade bantuan di wilayah itu, dimaksudkan untuk memaksa Hamas membebaskan sandera, kata pejabat Israel. Israel menyebut, Hamas menyandera sekitar 250 orang selama serangannya pada Oktober 2023 di Israel, yang mengakibatkan kematian sekitar 1.200 orang, dan Lima puluh tujuh sandera masih ditahan Hamas.
Baca juga:
Israel Tuduh Zohran Mamdani Sebarkan Antisemitisme di Hari Pertama Menjabat Wali Kota New YorkSerangan itu terjadi saat Donald Trump meninggalkan Timur Tengah setelah kunjungan empat hari ke negara-negara Teluk Arab, di mana Arab Saudi, UEA, dan Qatar berjanji untuk menginvestasikan miliaran dolar di AS.
Harapan bahwa kunjungan Trump dapat membawa kemajuan baru dalam perundingan gencatan senjata di Gaza pupus setelah presiden AS menegaskan kembali keinginannya untuk mengubah Gaza menjadi "zona kebebasan". Hal ini dianggap sebagai isyarat rencanar AS mengambil alih kendali atas wilayah Palestina dan mengubahnya menjadi "riviera Timur Tengah".
Pembicaraan gencatan senjata Gaza juga diharapkan mendominasi pertemuan puncak Liga Arab, tempat para pejabat Arab bertemu pada hari Sabtu. Menteri luar negeri Irak, Fuad Hussein, mengatakan bahwa para menteri yang hadir akan mendukung rencana rekonstruksi untuk Gaza, yang kontras dengan tawaran Trump untuk mengambil alih wilayah Palestina. Para menteri kemudian menjanjikan US$ 40 juta dana rekonstruksi untuk Gaza dan Lebanon.
Pada hari Sabtu Hamas mengonfirmasi putaran baru pembicaraan gencatan senjata Gaza dengan Israel sedang berlangsung di Doha, Qatar. Seorang pejabat kelompok tersebut, Taher al-Nono, mengatakan kepada Reuters bahwa kedua belah pihak membahas semua masalah tanpa "prasyarat".
Serangan Israel di Gaza, yang diluncurkan sebagai balasan atas serangan Oktober 2023, telah menewaskan sekitar 53.000 orang di Gaza, menurut otoritas kesehatan Palestina.
Kelaparan dan kekurangan gizi yang meluas di kalangan anak-anak juga meningkat, setelah Israel menghentikan bantuan kemanusiaan penting ke wilayah tersebut pada 2 Maret. Persediaan perawatan medis juga langka di tengah serangan Israel yang berulang kali terhadap rumah sakit dan fasilitas medis.
Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, mendesak dimulainya kembali bantuan ke Gaza dalam pidatonya di dewan keamanan PBB pada hari Selasa.
Israel secara konsisten membantah bahwa blokade 10 minggunya menyebabkan kelaparan di Gaza. Namun, Trump mengakui pada hari Kamis bahwa "banyak orang kelaparan di Gaza".