Selasa, 27 Januari 2026

Awali Pekan Suci, Paus Fransiskus: Pandemi, Membantu Mengubah Ketakutan Menjadi Pelayanan


 Awali Pekan Suci, Paus Fransiskus: Pandemi, Membantu Mengubah Ketakutan Menjadi Pelayanan Paus Fransiskus sedang memimpin Misa Minggu Palma, 5 April 2020. (Foto: Screenshot dari Vatican Media/Katoliknews.com)

VATICAN CITY, ARAHKITA.COM - Paus Fransiskus memulai liturgi Pekan Suci yang disiarkan langsung pada hari Minggu (5/4/2020) dengan mengatakan bahwa penderitaan yang dialami Yesus selama penyaliban dimaksudkan untuk meyakinkan umat manusia bahwa kita tidak sendirian – dan bahwa pandemi virus corona (COVID-19) saat ini adalah kesempatan untuk mencintai dan melayani orang lain, seperti yang Yesus telah lakukan.

“Ketika kita menemukan diri kita di jalan buntu, tanpa cahaya dan tidak ada jalan keluar, ketika tampaknya Tuhan sendiri tidak peduli, kita harus ingat bahwa kita tidak sendirian,” kata Paus dalam homilinya saat Misa Minggu Palma, 5 April 2020, yang merupakan awal Pekan Suci Gereja.

Paus Fransiskus mendesak orang-orang yang melalui pandemi virus corona agar tidak fokus pada kekurangan, tetapi bagaimana mereka bisa meringankan penderitaan orang lain.

Misa yang mengawali Pekan Suci menuju Paskah, biasanya mengundang puluhan ribu orang ke Lapangan Santo Petrus yang dihiasi pohon zaitun dan palem. Upacara ini biasanya mencakup prosesi panjang oleh para kardinal, pastur dan umat yang membawa daun palem.

Kali ini, misa tersebut diadakan dari altar sekunder yang terletak di belakang altar utama, di mana Paus biasanya memimpin---dan hanya dihadiri oleh sekitar dua lusin orang, termasuk beberapa pembantu, biarawati, dan anggota paduan suara yang jumlahnya dikurangi. Mereka semua mempraktikkan jarak sosial.

Prosesi simbolis hanya dilangsungkan dengan jarak beberapa meter dengan beberapa pohon zaitun pot dibawa masuk ke dalam basilika.

Misa disiarkan di televisi dan melalui internet ke jutaan orang. Gereja-gereja di negara-negara di seluruh dunia mengadakan layanan virtual yang serupa minggu ini karena pembatasan sosial yang diberlakukan.

Paus Fransiskus mendengarkan ketika tiga imam membaca kisah Injil tentang masuknya Yesus ke Jerusalem dan dipuji sebagai Mesias.

Pekan Suci menandai periode ketika orang-orang Kristiani memperingati peristiwa-peristiwa seputar prinsip-prinsip utama iman mereka---bahwa Yesus dikhianati, disalibkan, dan bangkit dari kematian.

Dalam khotbahnya, Fransiskus mendesak para pendengarnya untuk kembali kepada Tuhan "dalam tragedi pandemi, di hadapan banyak sekuritas palsu yang kini telah runtuh, di tengah begitu banyak harapan yang dikhianati, dalam rasa ditinggalkan yang membebani hati kita".

Pandemi dapat membantu mengubah ketakutan menjadi pelayanan, kata Paus.

Vatikan telah mengunci wilayahnya, menyusul langkah yang diambil Italia, di mana lebih dari 15.500 orang telah tewas sejak wabah epidemi virus corona baru muncul di Italia utara pada 21 Februari.

Ada hampir 125.000 kasus di Italia dan tujuh di Vatikan. Paus dan para pembantunya yang terdekat dinyatakan negatif.

"Tragedi yang kita alami memanggil kita untuk menganggap serius hal-hal yang serius, dan tidak terperangkap dalam hal-hal yang kurang penting; untuk menemukan kembali bahwa kehidupan tidak ada gunanya jika tidak digunakan untuk melayani orang lain. Karena hidup diukur dengan cinta," kata Paus Fransiskus dilaporkan Reuters.

"Semoga kita menjangkau mereka yang menderita dan mereka yang paling membutuhkan. Semoga kita tidak khawatir tentang apa yang menjadi kekurangan kita, tetapi apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain," ujar dia.

Semua layanan Pekan Suci yang dipimpin Paus, yang biasanya menarik puluhan ribu peziarah dan turis ke Roma, akan berlangsung di basilika kosong dalam versi yang diperkecil.

Prosesi Jalan Salib pada Jumat Agung yang biasanya berlangsung di sekitar Colosseum Roma, akan diadakan di atrium basilika yang relatif kecil.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru