Aktivitas kapal di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab. (Net)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Iran menetapkan sejumlah syarat sebelum membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional. Syarat tersebut disampaikan kepada Amerika Serikat (AS) melalui mediator di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada perubahan sikap AS, termasuk penghentian aksi militer dan pengembalian aset Iran yang dibekukan.
“Amerika harus mengakhiri perang, mengembalikan aset Iran yang dibekukan, dan perang di seluruh kawasan, termasuk Lebanon dan Gaza, harus berakhir,” kata Rezaei, Selasa (11/8/2026), sebagaimana dikutip Press TV.
Menurut Rezaei, sejumlah tuntutan tersebut telah disampaikan kepada AS melalui pihak yang bertindak sebagai mediator.
Selat Hormuz Jadi Kunci Negosiasi
Pernyataan Iran tersebut menempatkan Selat Hormuz kembali sebagai salah satu titik penting dalam negosiasi dengan Washington.
Selat yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan minyak dan harga energi global.
Reuters melaporkan pada Rabu (12/8) bahwa lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz telah turun tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan kapal-kapal komersial. Situasi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Iran sebelumnya juga telah menyatakan bahwa selat tersebut akan tetap ditutup sampai AS memenuhi tuntutan yang diajukan Teheran.
Pernah Ada Kesepakatan Iran dan AS
Ketegangan terbaru ini terjadi setelah Iran dan AS sebelumnya mencapai kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik.
Pada Juni 2026, kedua negara menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang menjadi kerangka untuk mengakhiri konflik dan membuka jalan menuju penyelesaian lebih permanen.
Kesepakatan tersebut antara lain berkaitan dengan penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial, serta penghentian blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Namun, kesepakatan itu kemudian mengalami kemunduran.
Pada 8 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir setelah kembali terjadi serangkaian serangan di kawasan. Washington kemudian melanjutkan tekanan militernya terhadap Iran.
Iran dan AS Kembali Saling Serang
Ketegangan semakin meningkat setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang.
Amerika Serikat menyebut tindakannya sebagai respons terhadap serangan Iran dan gangguan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi kawasan Selat Hormuz.
Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut membuat Selat Hormuz kembali menjadi salah satu pusat ketegangan geopolitik dunia.
Pada saat yang sama, AS juga kembali memberlakukan tekanan terhadap pelayaran yang berkaitan dengan Iran. Pada 11 Agustus, militer AS dilaporkan menembaki sebuah kapal kontainer berbendera Panama di Teluk Oman yang disebut melanggar blokade terhadap Iran dilansir Antara.
Pembukaan Selat Hormuz Masih Bergantung pada Negosiasi
Dengan kondisi tersebut, pembukaan kembali Selat Hormuz kini tidak hanya menyangkut lalu lintas perdagangan, tetapi juga menjadi bagian dari tawar-menawar politik dan keamanan antara Iran dan AS.
Iran menginginkan penghentian aksi militer, pengembalian aset yang dibekukan, serta berakhirnya konflik di sejumlah wilayah kawasan.
Sementara itu, Washington masih mempertahankan tekanan terhadap Teheran.
Perbedaan posisi tersebut membuat pembukaan kembali Selat Hormuz belum menemukan titik terang.
Padahal, semakin lama jalur strategis tersebut terganggu, semakin besar pula risiko terhadap perdagangan energi global.
Karena itu, perkembangan negosiasi Iran dan AS tidak hanya menjadi perhatian negara-negara Timur Tengah. Dunia internasional juga menunggu apakah kedua pihak dapat menemukan jalan keluar yang memungkinkan Selat Hormuz kembali aman dan terbuka bagi pelayaran komersial.
Untuk saat ini, posisi Iran masih tegas: Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai tuntutan Teheran dipenuhi oleh Washington.