Sabtu, 15 Agustus 2026

Jepang Alami Hari Pertama ‘Panas Sangat Menyiksa‘, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius


 Jepang Alami Hari Pertama ‘Panas Sangat Menyiksa‘, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius Jepang Alami Hari Pertama 'Panas Sangat Menyiksa', Suhu Tembus 40 Derajat Celsius. (ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Jepang memasuki babak baru musim panas ekstrem setelah untuk pertama kalinya mengalami "kokushobi", istilah resmi yang digunakan untuk menggambarkan hari ketika suhu udara mencapai 40 derajat Celsius atau lebih.

Fenomena ini terjadi pada Selasa (22/7), ketika suhu di tiga kota di Jepang bagian tengah, yakni Tajimi, Gujo, dan Toyoda, menembus angka 40 derajat Celsius. Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkirakan cuaca panas ekstrem masih akan berlanjut hingga pekan depan.

Istilah kokushobi sendiri baru diperkenalkan pada April lalu oleh Badan Meteorologi Jepang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko gelombang panas yang semakin berbahaya. Sebelumnya, Jepang telah mengenal beberapa istilah untuk mengklasifikasikan tingkat panas, mulai dari hari bersuhu di atas 25 derajat Celsius, 30 derajat Celsius, hingga moshobi, yaitu hari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius.

Namun, ketika suhu menembus angka 40 derajat Celsius, pemerintah merasa perlu menggunakan istilah baru yang lebih tegas. Kata "koku" dalam bahasa Jepang berarti keras atau kejam, sehingga kokushobi dimaknai sebagai hari dengan panas yang sangat menyiksa.

Fenomena ini menjadi sinyal bahwa perubahan iklim semakin nyata dirasakan di Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas gelombang panas terus meningkat. Bahkan pada 2025, Jepang mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, yakni 41,8 derajat Celsius di Kota Isesaki.

Menurut laporan Kyodo News, hampir 300 dari 914 titik pengamatan cuaca di seluruh Jepang mencatat status moshobi pada hari yang sama. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mengeluarkan peringatan bahaya serangan panas di lebih dari 40 prefektur.

Warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan pendingin ruangan bila memungkinkan, memperbanyak minum air, serta mengonsumsi garam untuk menjaga keseimbangan elektrolit tubuh sebagaimana diolah dan dikutip dari BBC.

Dampak cuaca ekstrem mulai terlihat di berbagai daerah. Dinas Pemadam Kebakaran Tokyo melaporkan sebanyak 287 orang, berusia antara tiga hingga 103 tahun, dilarikan ke rumah sakit karena diduga mengalami serangan panas. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.

Sehari kemudian, otoritas pemadam kebakaran kembali mengeluarkan peringatan mengenai tingginya penggunaan layanan ambulans dan mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap risiko heatstroke.

Gelombang panas juga berdampak pada dunia kerja. Berdasarkan data yang dikutip dari Kyodo News, sepanjang tahun lalu tercatat 1.803 kasus serangan panas di tempat kerja, angka tertinggi yang pernah terjadi di Jepang. Dari jumlah tersebut, 19 orang meninggal dunia.

Menghadapi musim panas yang semakin ekstrem, Pemerintah Metropolitan Tokyo bahkan mendorong pekerja kantoran mengenakan pakaian yang lebih santai seperti kaus dan celana pendek, menggantikan setelan jas dan dasi yang selama ini menjadi standar berpakaian di lingkungan kerja.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perubahan iklim tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan telah memengaruhi kehidupan sehari-hari, kesehatan masyarakat, hingga kebijakan pemerintah di berbagai negara.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru