Senin, 24 Agustus 2026

ASEAN Desak AS dan Iran Tahan Eskalasi, Khawatir Upaya Perdamaian Timur Tengah Gagal Total


 ASEAN Desak AS dan Iran Tahan Eskalasi, Khawatir Upaya Perdamaian Timur Tengah Gagal Total Para Menteri Luar Negeri negara-negara ASEAN berfoto bersama dalam upacara pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 di Pasay City, Metro Manila, Filipina, pada 21 Juli 2026. /ANTARA/Daniel Ceng-Anadolu/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia. Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menahan diri agar konflik tidak semakin meluas. ASEAN menilai eskalasi yang terus terjadi justru menggerus peluang tercapainya perdamaian melalui jalur diplomasi.

Seruan tersebut disampaikan dalam komunike bersama para Menteri Luar Negeri ASEAN yang dirilis pada Selasa (21/7/2026), bertepatan dengan pertemuan tahunan ASEAN ke-59 di Manila, Filipina.

"Kami menyatakan keprihatinan serius atas situasi yang berkembang pesat di Timur Tengah, khususnya permusuhan yang kembali memanas yang melibatkan AS dan Iran," demikian isi pernyataan bersama para menteri luar negeri ASEAN.

ASEAN menilai meningkatnya ketegangan telah melemahkan berbagai upaya yang dilakukan para mediator internasional untuk mendorong penyelesaian damai.

"Kami sangat prihatin bahwa perkembangan ini sangat melemahkan upaya para mediator utama dan mengurangi prospek penyelesaian damai melalui dialog dan diplomasi," demikian bunyi komunike tersebut.

Selain menyerukan penghentian eskalasi, ASEAN juga menegaskan pentingnya menjaga perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan dengan tetap menjunjung tinggi hukum internasional. Organisasi regional itu mendorong semua pihak mengedepankan dialog yang tulus serta diplomasi sebagai jalan keluar dari konflik yang berkepanjangan.

ASEAN juga meminta penghentian permusuhan secara menyeluruh dan sesegera mungkin di seluruh kawasan Timur Tengah agar situasi tidak semakin memburuk.

Seruan itu muncul ketika bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran kembali terjadi, meski kedua negara sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu untuk mengakhiri perang melalui mediasi Pakistan dikutip Antara.

Pakistan bersama Qatar, yang berperan sebagai mediator utama, sebelumnya telah meminta Washington dan Teheran menghentikan seluruh aksi militer dan kembali ke meja perundingan sebelum 9 Juli.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Pada Selasa, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran. Teheran merespons dengan serangan balasan yang menargetkan sejumlah aset dan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.

Di tengah situasi yang memanas, Pakistan dan Qatar juga mengajukan proposal bersama yang mendorong kedua negara membuka kembali jalur diplomasi. Usulan itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta penghentian sanksi terhadap ekspor minyak Iran.

ASEAN berharap langkah-langkah diplomatik tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi terciptanya stabilitas kawasan dan mencegah konflik berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru