Sabtu, 15 Agustus 2026

Isu Myanmar Diprediksi Dominasi Pertemuan Menlu ASEAN di Filipina, Perdamaian Jadi Sorotan


 Isu Myanmar Diprediksi Dominasi Pertemuan Menlu ASEAN di Filipina, Perdamaian Jadi Sorotan Para menteri luar negeri (Menlu) dari negara-negara ASEAN berkumpul dalam pertemuan informal Menlu se-ASEAN bersama Myanmar di Bangkok, Thailand, Minggu (12/7/2026). (ANTARA/HO-Kemlu RI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Isu Myanmar kembali menjadi perhatian utama dalam pertemuan Menteri Luar Negeri (Menlu) ASEAN yang resmi dimulai di Manila, Filipina, Selasa (21/7/2026).

Di bawah keketuaan Filipina, ASEAN berupaya mencari langkah konkret untuk mendorong perdamaian dan membuka jalan bagi normalisasi hubungan dengan Myanmar setelah bertahun-tahun dilanda konflik pascakudeta militer. Selain Myanmar, berbagai persoalan keamanan kawasan dan global juga masuk dalam agenda pembahasan.

Myanmar Masih Menjadi Tantangan ASEAN

Filipina, yang memegang keketuaan ASEAN pada 2026, menyatakan telah menjalin komunikasi dengan seluruh pihak di Myanmar guna mendorong terciptanya kemajuan nyata menuju perdamaian.

Sejak kudeta militer pada Februari 2021, Myanmar dilanda konflik berkepanjangan yang memicu perang saudara, krisis kemanusiaan, serta ketidakstabilan politik. Situasi tersebut membuat ASEAN selama beberapa tahun tidak mengundang perwakilan politik Myanmar dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi.

Pada Mei 2026, para pemimpin ASEAN sempat menyepakati agar Myanmar dapat mengikuti pertemuan tingkat menteri luar negeri secara daring melalui perwakilan tertentu. Namun, dalam pertemuan di Manila kali ini, Myanmar kembali hanya diwakili oleh pejabat non-politik, yakni Wakil Menteri Luar Negeri.

Juru Bicara Keketuaan ASEAN 2026, Dominic Xavier Imperial, mengatakan ASEAN berharap Myanmar dapat kembali berpartisipasi secara penuh dalam forum regional.

"Kami berharap Myanmar dapat bergabung kembali dengan para menteri dan pemimpin yang mewakili negara tersebut. Namun hingga saat ini, seluruh negara anggota ASEAN masih terus mencari cara untuk mewujudkannya," ujar Imperial dalam konferensi pers di Manila dikutip Antara.

Konflik Myanmar Belum Berakhir

Sejak kudeta berlangsung, ribuan warga sipil dilaporkan tewas dalam operasi militer maupun bentrokan antara junta dan kelompok pro-demokrasi.

Pemerintah militer Myanmar juga menangkap banyak tokoh politik dan aktivis, termasuk pemimpin sipil Myanmar sebelum kudeta, Aung San Suu Kyi.

Meski sejumlah tahanan politik telah dibebaskan, laporan menyebutkan Aung San Suu Kyi kini ditempatkan sebagai tahanan rumah di lokasi yang dirahasiakan setelah junta militer menyelenggarakan pemilu pada awal tahun ini.

Konflik Regional Ikut Masuk Agenda

Selain Myanmar, para Menteri Luar Negeri ASEAN juga akan membahas sejumlah isu strategis lain yang memengaruhi stabilitas kawasan.

Di antaranya adalah konflik Amerika Serikat dan Iran, ketegangan antara Thailand dan Kamboja, serta perkembangan situasi di Laut China Selatan yang masih menjadi perhatian bersama.

Pertemuan ASEAN Ministerial Meeting (AMM) ke-59 beserta rangkaian dialog lainnya berlangsung di Manila sejak Senin hingga Jumat pekan ini. Forum tersebut dihadiri para menteri luar negeri, duta besar, dan pejabat senior dari lebih dari 50 negara.

ASEAN sendiri merupakan organisasi regional Asia Tenggara yang kini beranggotakan 11 negara, yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor Leste, Vietnam.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru